Ilustrasi Mobil Listrik. (Flickr/K?rlis Dambr?ns)
INDOZONE.ID - Uni Eropa (UE) sedang mempelajari langkah baru untuk mengatur masuknya kendaraan listrik asal China. Pokok pembahasan yakni mengganti tarif impor dengan kebijakan pengendalian harga atau penetapan harga minimum.
Kebijakan ini dipandang sebagai instrumen strategis untuk meredam tensi perdagangan internasional, tanpa mengendurkan pengawasan terhadap arus impor mobil listrik asal China.
Di sisi lain, kebijakan tersebut diproyeksikan menjadi perisai bagi industri otomotif Eropa dalam menghadapi tekanan kompetisi harga yang kian agresif di pasar global.
Baca juga: Daftar Lengkap Harga Mobil Hybrid di Indonesia per Januari 2026
Dilansir dari Carscoops, Selasa (13/1/2026), setelah melewati fase ketegangan dagang dan gejolak politik yang berkepanjangan, Uni Eropa kini mengambil langkah untuk meninjau kembali kebijakan tarif kendaraan listriknya.
Padahal, pajak impor tinggi tersebut baru berjalan selama kurang lebih 18 bulan, sebuah kebijakan yang awalnya dirancang sebagai perisai bagi pabrikan otomotif lokal dalam membendung dominasi mobil listrik Tiongkok yang dibanderol dengan harga miring.
Sebelumnya, Uni Eropa telah memberlakukan tarif hingga 45 persen terhadap kendaraan listrik China. Besaran tarif tersebut sangat bervariatif, tergantung pada penilaian terhadap besarnya subsidi yang diterima masing-masing merek dari pemerintah China.
Kini, kebijakan itu berpotensi diganti dengan penetapan harga minimum untuk impor kendaraan listrik dari Asia.
Melalui skema ini, para produsen otomotif China diwajibkan menyodorkan proposal harga yang dinilai cukup kompetitif guna menetralisir dampak subsidi pemerintah mereka.
Berdasarkan dokumen Komisi Eropa yang dilansir South China Morning Post, penetapan harga tersebut harus menghasilkan efektivitas yang sebanding dengan penerapan bea masuk.
Tak hanya terpaku pada angka, Uni Eropa juga akan mengevaluasi komitmen investasi jangka panjang dari produsen tersebut di dalam kawasan.
Penetapan harga minimum diklaim dapat memberi ruang bagi produsen mobil Barat yang memproduksi kendaraan di Eropa guna bersaing secara sehat dengan merek China, seperti BYD dan Chery.
Di sisi lain, lantaran tidak ada kewajiban untuk membayar tarif, produsen China tetap bisa mempertahankan margin keuntungan, sehingga ketegangan dagang diharapkan bisa mereda.
Ketegangan dagang ini diawali dengan langkah Beijing yang menerapkan tarif balasan atas kebijakan Uni Eropa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Carscoops