Ilustrasi Honda Clarity, kendaraan berbasis hidrogen. (ArenaEV)
INDOZONE.ID - Masa depan industri otomotif global saat ini semakin mengarah ke kendaraan listrik. Namun, di tengah dominasi mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV), masih ada satu teknologi lain yang terus dikembangkan sebagai alternatif, yaitu kendaraan berbasis hidrogen dengan teknologi fuel cell.
Meski belum sepopuler mobil listrik berbaterai, kendaraan hidrogen tetap menarik perhatian karena menawarkan waktu pengisian energi yang cepat dan emisi yang sangat rendah. Bahkan, sejumlah produsen otomotif seperti Toyota, Hyundai, hingga Honda masih terus berinvestasi dalam pengembangan teknologi ini.
Lantas, apa sebenarnya fuel cell, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa mobil hidrogen hingga kini masih kalah populer dibanding mobil listrik berbaterai?
Fuel cell atau sel bahan bakar merupakan teknologi yang menghasilkan listrik langsung di dalam kendaraan melalui reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen.
Teknologi ini sebenarnya bukan hal baru. Fuel cell sudah digunakan sejak era 1960-an oleh badan antariksa Amerika Serikat, NASA, untuk memasok listrik dalam misi Gemini dan Apollo ke Bulan.
Dalam industri otomotif modern, jenis yang paling banyak digunakan adalah Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC).
Sistem ini terdiri dari tiga komponen utama, yaitu anoda, katoda, dan membran pemisah.
Hidrogen yang disimpan di dalam tangki kendaraan dialirkan ke anoda. Di sana, molekul hidrogen dipecah menjadi proton dan elektron.
Proton akan melewati membran khusus, sementara elektron bergerak melalui sirkuit eksternal sehingga menghasilkan arus listrik yang kemudian digunakan untuk menggerakkan motor listrik kendaraan.
Di sisi lain, pada katoda, proton, elektron, dan oksigen dari udara bertemu lalu bereaksi membentuk air.
Karena itu, emisi yang keluar dari kendaraan fuel cell hanyalah uap air.
Baca juga: 5 Kelebihan Teknologi CSH yang Digunakan di Mobil Chery Terbaru, Beneran Irit BBM?
Ilustrasi produksi hidrogen melalui elektrolisis berkelanjutan. (ArenaEV)
Meski menjadi unsur paling melimpah di alam semesta, hidrogen tidak tersedia secara bebas di bumi sehingga harus diproduksi terlebih dahulu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ArenaEV