INDOZONE.ID - Modifikasi Aerox bukan sekadar mengganti aksesori agar tampil beda.
Bagi modifikator asal Yogyakarta, Gofar Jagoan, Yamaha Aerox menjadi media untuk mengekspresikan karakter lewat berbagai konsep modifikasi.
Pengalamannya selama memakai tiga generasi Aerox juga menunjukkan bahwa skutik ini cukup fleksibel untuk dimodifikasi, baik untuk harian maupun kontes.
Sebelum membeli part aftermarket, tentukan dulu konsep yang ingin dibangun.
Menurut pengalaman Gofar, konsep menjadi fondasi agar hasil modifikasi terlihat menyatu.
Selama beberapa tahun terakhir, ia pernah menggarap Aerox dengan berbagai gaya.
Baca juga: Honda Vario Evo 160 vs Aerox Alpha, Pilih Praktis atau Sporty?
Baca juga: Mau Modifikasi Perlampuan Yamaha Aerox 155? Ini 3 Hal Penting yang Harus Kamu Pahami!
Mulai dari monoshock, Moge Looks, hingga Japanese Lowered Static Scooter yang belakangan cukup populer di kalangan modifikator.
Memiliki konsep sejak awal juga membuat pengeluaran lebih terkontrol.
Part yang dibeli benar-benar sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.
Belajar dari Modifikasi Sederhana
Perjalanan Gofar bersama Yamaha Aerox dimulai pada 2018.
Saat itu ia berpindah dari motor sport fairing ke skutik dan memilih Aerox karena desain agresif, mesin 155 cc, bagasi luas, serta posisi tangki di tengah.
Setelah merasa nyaman, ia mulai belajar dunia modifikasi bersama Ian Juno. Fokus awalnya adalah modifikasi monoshock.
Motor pertamanya yang diberi nama "Cleo" dibangun menggunakan pendekatan plug and play (PNP).
Modifikasi dilakukan secara sederhana karena keterbatasan biaya.
Meski belum sempurna, proyek tersebut justru mengantarkan Gofar menjadi juara pertama CustoMAXi Regional 2019.
Tips Modifikasi Aerox
Banyak orang tergoda mengejar tampilan ekstrem. Padahal motor tetap harus nyaman dikendarai jika digunakan setiap hari.
Menurut Gofar, Aerox punya karakter yang mendukung kebutuhan tersebut.
Desainnya sporty, mesinnya responsif, tetapi tetap praktis digunakan untuk aktivitas harian.
“Dari generasi pertama hingga AEROX ALPHA sekarang, motor ini terbukti jadi paket lengkap yang beneran anti-mainstream karena mampu menggabungkan desain agresif, performa mesin 155cc yang gak kaleng-kaleng, dan fungsinya yang fleksibel banget,” ujar Gofar Jagoan.
Berani Bereksperimen
Setelah sukses dengan generasi pertama, Gofar kembali bereksperimen menggunakan Aerox generasi kedua yang diberi nama "Cony".
Kali ini ia mengusung konsep Moge Looks dengan geometri lowered, monoshock ber-travel pendek, serta penggunaan velg berukuran lebih besar.
Hasilnya membawa Gofar menjadi juara Master Class CustoMAXi 2023.
Eksplorasi berlanjut pada proyek "Dolphin" berbasis Aerox Alpha pada 2025.
Ia memilih aliran Japanese Lowered Static Scooter, gaya modifikasi yang mengutamakan posisi motor serendah mungkin dengan perhitungan geometri yang presisi.
Menariknya, saat tren air suspension sedang naik daun, Gofar tetap memilih setup statik ekstrem.
Pilihan itu menunjukkan bahwa modifikasi sering kali bukan soal mengikuti tren, melainkan membangun identitas sesuai karakter pemilik motor.
"Yamaha AEROX telah berkembang menjadi lebih dari sekadar alat transportasi, tetapi juga lifestyle item yang mampu merepresentasikan karakter dan gaya hidup anak muda masa kini,” Rifki Maulana, PR, YRA & Community Manager PT Yamaha Indonesia Motor Mfg.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YIMM