INDOZONE.ID - Mobil mogok di tengah jalan sudah cukup bikin panik, apalagi kalau mobilnya transmisis matic. Banyak pengendara masih bingung, boleh gak sih mobil matic saat mogok itu ditarik?
Jawabannya, tidak sesederhana yang dipikirkan. Ada alasan teknis yang wajib dipahami bagi supya transmisi mobil tidak mudah jebol.
Kenapa mobil Matic Lebih Sensitif Dibanding Manual?
Beda dengan transmisi manual yang mengandalkan kopling mekanis dan bisa dipindah gigi tanpa bantuan tenaga mesin, transmisi matic bekerja dengan sistem yang jauh lebih kompleks.
Baca juga: Kamu Pemula? Berikut Tips Mengemudi Mobil Matic agar Mesin Lebih Awet
Ada komponen bernama torque converter yang berfungsi sebagai kopling fluida, lalu ada planetary gear yang mengatur rasio putaran, serta rangkaian clutch yang bekerja berdasarkan tekanan oli.
Semua komponen ini butuh pelumasan dari oli transmisi yang disirkulasikan oleh pompa hidrolik. Masalahnya, pompa oli ini digerakkan langsung oleh putaran mesin.
Artinya, begitu mesin mati karena mogok, pompa oli otomatis berhenti bekerja dan sirkulasi pelumas ke seluruh komponen transmisi pun terhenti total.
Apa yang Terjadi Kalau Tetap Ditarik?
Nah, di sinilah masalahnya muncul. Kalau mobil matic yang mogok ditarik pakai metode konvensional (roda tetap menempel di jalan), roda akan tetap berputar mengikuti laju mobil penarik, meski tuas transmisi sudah dipindah ke posisi netral (N).
Putaran roda ini otomatis membuat sebagian komponen di dalam transmisi seperti drum clutch, poros perantara, sampai unit planetary ikut berputar.
Padahal, karena mesin mati, komponen-komponen yang berputar itu sama sekali tidak mendapat pelumasan oli. Kondisi logam yang bergesekan tanpa pelumas inilah yang berisiko menyebabkan keausan.
Bahkan bisa berujung patah pada komponen internal transmisi.
Pada beberapa tipe transmisi matic, kondisi ini bahkan bisa memicu tekanan oli semu di dalam sistem yang justru mempercepat kerusakan komponen.
Faktanya, mobil matic sebenarnya masih boleh ditarik menggunakan metode konvensional (towing tarik pakai tali atau rantai), tapi dengan syarat ketat yang tidak boleh dilanggar, seperti tuas transmisi wajib dalam posisi netral (N).
Kalau mobil dalam kondisi mati total, gunakan fitur shift lock untuk memindahkan tuas ke posisi netral tanpa perlu menyalakan mesin.
Jarak tarik maksimal sekitar 80 kilometer. Lebih dari itu, risiko keausan komponen transmisi meningkat signifikan karena durasi putaran tanpa pelumasan makin lama.
Kecepatan tarik dijaga di bawah 20-30 km/jam.
Semakin cepat mobil ditarik, semakin cepat pula komponen transmisi berputar tanpa pelumas, sehingga risiko kerusakan makin besar.
Perhatikan posisi roda penggerak. Untuk mobil penggerak roda depan (FWD), pastikan roda depan terangkat dari tanah. Sebaliknya, untuk mobil penggerak roda belakang (RWD), roda belakang yang harus terangkat, supaya roda penggerak tidak ikut berputar sama sekali saat proses penarikan.
Di luar batasan-batasan itu, seperti menarik dengan jarak jauh, kecepatan tinggi, atau di jalan menurun dan ramai, risikonya jauh lebih besar dan sangat tidak dianjurkan.
Mobil matic yang mogok sebenarnya masih bisa ditarik dengan metode konvensional, asalkan mengikuti aturan ketat soal posisi netral, jarak, kecepatan, dan posisi roda penggerak.
Baca juga: Mobil Listrik Mogok Harus Diapain? Ini 5 Hal yang Perlu Dipahami Pemilik EV Biar Gak Panik
Namun kalau ada pilihan, towing gendong tetap jadi opsi paling aman karena benar-benar menghilangkan risiko kerusakan pada komponen transmisi.
Jadi, lain kali mobil matic kesayangan mogok di jalan, jangan asal panggil derek tarik termurah, pertimbangkan dulu jarak tempuh dan kondisi jalan supaya transmisi tetap aman sampai ke bengkel.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Auto 2000, Honda Indonesia