Pekerja merakit mobil VF3 di Pabrik VinFast Subang, Jawa Barat. (Indozone/Rachmat Fahzry)
INDOZONE.ID - Industri otomotif kendaraan listrik Indonesia tumbuh dengan CAGR lebih dari 140 persen dalam lima tahun terakhir.
Per 2025, pangsa pasar kendaraan listrik sudah menyentuh 21,71 persen dari total pasar otomotif nasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjadikan pemerintah sebagai early adopter kendaraan listrik produksi dalam negeri. Itu berarti, instansi pemerintah akan menjadi pembeli pertama.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, pemerintah serius membangun industri kendaraan listrik nasional secara menyeluruh.
“Kami tidak hanya mendorong sisi produksi, tetapi juga memberikan sinyal pasar yang kuat dengan menjadikan pemerintah sebagai early adopter bagi kendaraan listrik produksi dalam negeri," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Indozone.
Sebagai informasi, beberapa negara seperti Norwegia dan China juga menggunakan pengadaan pemerintah sebagai katalis awal untuk mendorong adopsi kendaraan listrik secara massal.
Baca juga: Apakah Mobil Listrik Bisa Menyelamatkan Bumi? Begini Penjelasannya
Baca juga: Sewa Mobil Listrik VinFast Mulai Rp312.500, Cocok untuk Driver Online?
Data Kemenperin memperlihatkan, dari 21,71 persen pangsa pasar kendaraan listrik di 2025. Battery electric vehicle (BEV) menyumbang 12,93 persen, hybrid electric vehicle (HEV) 8,13 persen, dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) 0,65 persen.
Dari sisi produksi, kendaraan berbasis listrik berkontribusi 11,1 persen dari total produksi otomotif nasional pada 2025.
Angka ini diproyeksikan naik di 2026, seiring masuknya pabrikan baru melalui program insentif kendaraan listrik dalam kondisi completely built up (CBU).
Beberapa nama besar sudah lebih dulu berkomitmen, yakni Hyundai Motor Manufacturing Indonesia, SGMW Motors Indonesia, dan Industri Baterai Indonesia.
Perbedaan Indonesia dari banyak negara lain adalah kelengkapan rantai pasok baterai yang sudah terbentuk. Mulai dari proses refinery, produksi sel baterai, hingga daur ulang (recycling).
Banyak negara yang baru mulai membangun industri kendaraan listrik justru tersandung di titik ini karena ketergantungan impor bahan baku baterai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Kemenperin