INDOZONE.ID - Usaha patungan Sony Honda Mobility (SHM) dikabarkan menghentikan pengembangan merek mobil listrik Afeela setelah beberapa tahun melakukan riset dan pengembangan. Keputusan ini menandai perubahan arah strategi kedua perusahaan raksasa Jepang tersebut di tengah dinamika industri kendaraan listrik global.
Langkah ini muncul tak lama setelah Honda mengumumkan pembatalan tiga proyek kendaraan listrik yang sebelumnya disiapkan untuk pasar Amerika Serikat pada awal Maret 2026. Kebijakan tersebut diperkirakan berdampak besar secara finansial, dengan potensi kerugian mencapai hampir 16 miliar dolar AS.
Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab perubahan strategi ini. Salah satunya adalah kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Selain itu, persaingan ketat dari produsen kendaraan listrik asal China juga turut menekan posisi produsen Jepang di pasar global.
Baca juga: Sony Honda Mobility Resmi Umumkan Jadwal Rilis Afeela 1, Harga Mulai Rp629 Juta
Sebelumnya, SHM sempat berencana memanfaatkan berbagai teknologi dan aset milik Honda untuk mengembangkan sedan dan SUV Afeela. Namun, dengan adanya perubahan kebijakan dan strategi bisnis, proyek tersebut kini tidak lagi berlanjut.
Padahal, model perdana mereka, Afeela 1, dijadwalkan meluncur pada akhir tahun ini dengan harga awal sekitar 90.000 dolar AS atau setara Rp1,5 miliar. Hingga kini, belum ada kepastian terkait kelanjutan usaha patungan tersebut, termasuk nasib ratusan karyawan yang bekerja di Jepang dan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resminya, SHM menyebutkan bahwa pihaknya masih akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait masa depan perusahaan. Keputusan strategis jangka menengah dan panjang disebut akan diumumkan dalam waktu dekat.
Ketertarikan Sony di industri otomotif sebenarnya sudah terlihat sejak ajang Consumer Electronics Show 2020, saat mereka memperkenalkan mobil konsep Vision-S. Kehadiran kendaraan tersebut sempat mengejutkan publik dan menarik perhatian luas.
Mobil konsep itu menonjolkan kekuatan Sony di bidang teknologi hiburan, dengan fitur seperti layar lebar di dasbor, sistem audio 360 derajat, layar penumpang belakang, serta puluhan sensor canggih. CEO Sony saat itu, Kenichiro Yoshida, menyebut proyek tersebut sebagai kontribusi perusahaan terhadap masa depan mobilitas.
Baca juga: Kolaborasi Sony dan Honda Luncurkan Mobil Listrik Afeela Berbasis Joystick PS5
Vision-S sendiri dibangun di atas platform yang dikembangkan bersama pemasok otomotif global, Magna. Meski awalnya tidak jelas apakah Sony akan benar-benar masuk ke bisnis otomotif, kerja sama dengan Honda pada 2022 menjadi langkah nyata menuju produksi kendaraan listrik.
Namun, kondisi pasar kendaraan listrik di Amerika Serikat kini berubah drastis. Kebijakan pemerintah serta persaingan yang semakin ketat membuat banyak perusahaan, termasuk startup EV, kesulitan bertahan. Situasi ini turut memengaruhi keputusan SHM dalam menghentikan proyek Afeela untuk sementara waktu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA