Selasa, 05 MEI 2026 • 16:29 WIB

Pemerintah Gas Insentif Mobil Listrik, Agus dan Purbaya Bertemu

Author

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berbincang dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Dok. Humas Kemenperin)

INDOZONE.ID - Pemerintah mulai mengerucutkan arah insentif mobil listrik lewat pertemuan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Fokusnya mendorong industri manufaktur, tekan beban subsidi BBM, dan jaga daya saing nasional.

Insentif mobil listrik adalah kebijakan pemerintah berupa potongan pajak, subsidi, atau kemudahan lain untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik.

Tujuannya bikin harga lebih terjangkau dan menarik minat pasar.

Di sisi lain, dampaknya lebih luas. Konsumsi BBM bisa turun. Impor energi bisa ditekan. Beban subsidi negara ikut berkurang.

“Insentif kendaraan listrik kini semakin relevan. Selain untuk menekan emisi, juga untuk mengurangi konsumsi BBM sehingga dapat menekan beban subsidi. Yang tidak kalah penting, kebijakan ini harus mampu memperkuat industri dalam negeri dan melindungi tenaga kerja kita,” ungkap Agus dalam pernyataannya yang diterima Indozone.

Baca juga: 4 Risiko Besar yang Perlu Diketahui jika Mobil Listrik Menerjang Banjir

Baca juga: Kenapa Mobil Listrik Mogok di Rel? Ternyata Ini Penyebabnya

Kalau dilihat, ini bukan cuma isu otomotif. Ini soal fiskal negara.

Kedua kementerian membahas langsung masalah yang dihadapi industri. Dari hambatan birokrasi sampai tantangan di lapangan.

“Kami juga memberikan apresiasi sejak awal bahwa Menteri Keuangan sudah membuka dan mengkanalisasi berbagai permasalahan yang dihadapi pelaku usaha, termasuk melalui pembentukan tim debottlenecking,” ujar Agus.

Tim debottlenecking ini menarik. Fungsinya memangkas hambatan regulasi yang sering bikin industri jalan lambat.

Kalau efektif, dampaknya bisa cepat terasa.

Ekspor Manufaktur Masih Tertahan

Data Badan Pusat Statistik mencatat 75–80 persen ekspor Indonesia berasal dari manufaktur.

Angka sih terlihat besar, tapi belum maksimal.

Masalahnya ada di struktur pasar. Sekitar 80 persen produk manufaktur diserap domestik. Ekspor cuma sekitar 20 persen.

“Kita ingin meningkatkan capaian tersebut. Namun perlu dipahami bahwa struktur manufaktur Indonesia berbeda dengan negara lain seperti Vietnam, Thailand, maupun Malaysia. Selama ini, sekitar 80 persen output manufaktur kita diserap pasar domestik, sementara sekitar 20 persennya diekspor,” jelas Agus.

Pertanyaannya apakah insentif mobil listrik bisa ikut dorong ekspor?

Pemerintah mencoba main di dua sisi.

Pasar domestik tetap dijaga. Industri lokal dilindungi. Tapi ekspor juga didorong.

“Kita ingin mengoptimalkan potensi ekspor tanpa mengurangi porsi domestik. Artinya, kita tetap melindungi pasar dalam negeri, tetapi juga mendorong peningkatan ekspor produk manufaktur,” tegas Agus.

Koordinasi antara Kemenperin dan Kemenkeu jadi kunci. Satu pegang industri. Satu lagi pegang anggaran.

“Intinya, kami membahas berbagai policy dan langkah yang perlu diambil pemerintah, baik sebagai stimulus maupun insentif, agar pertumbuhan manufaktur yang menopang pertumbuhan ekonomi dapat berjalan lebih baik dan lebih cepat,” imbuh Agus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Humas Kemenperin

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU