Minggu, 07 JUNI 2026 • 10:15 WIB

Mobil Terbang Butuh Baterai Solid-State untuk Terbang Jauh, Benarkah?

Author

Govy AirCab. (Dok. Govy)

INDOZONE.ID - Mobil terbang diprediksi memasuki fase komersial dalam beberapa tahun ke depan. Namun menurut CEO Govy eVTOL dari GAC, masa depan industri ini sangat bergantung pada satu teknologi baterai solid-state.

Jenis baterai ini dinilai mampu menjawab dua tantangan terbesar mobil terbang, yakni jarak tempuh dan keselamatan.

Industri mobil terbang atau eVTOL (electric Vertical Take-Off and Landing) saat ini sedang memasuki tahap penting di China. 

Pendiri sekaligus CEO GAC Govy, Su Qingpeng, mengatakan cara investor melihat industri mobil terbang kini mulai berubah. Jika sebelumnya fokus pada spesifikasi teknis dan demonstrasi teknologi, sekarang perhatian bergeser ke hal yang lebih konkret.

Investor mulai melihat volume produksi, potensi keuntungan, serta seberapa cepat sebuah kendaraan bisa mendapatkan sertifikasi kelaikan terbang

Baca juga: Xpeng Punya Arridge, Mobil Terbang Modular ala Masa Depan

Su membandingkan kondisi industri mobil terbang saat ini dengan kendaraan listrik sekitar satu dekade lalu.

“Kendaraan energi baru baru memasuki periode pertumbuhan pesat setelah pangsa pasarnya melebihi 7%,” kata Su dikutip dari Car News China, Minggu (7/6/2026).

Menurutnya, perkembangan mobil terbang bisa berlangsung lebih cepat dibanding mobil listrik. Ia memperkirakan ekosistem bisnis yang matang mulai terbentuk pada 2030.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China semakin aktif mendorong ekonomi ketinggian rendah atau low-altitude economy, sektor yang mencakup drone hingga layanan taksi udara.

Baterai Jadi Penentu Masa Depan Mobil Terbang

Di tengah berbagai tantangan teknis, Su menilai baterai menjadi faktor paling krusial.

Menurut Su, teknologi baterai solid-state akan memainkan peran besar dalam pengembangan mobil terbang.

“Baterai solid-state memecahkan masalah jangkauan jauh dan keselamatan tinggi untuk mobil terbang,” katanya.

Baterai solid-state adalah jenis baterai yang menggunakan elektrolit padat, bukan cair seperti baterai lithium-ion konvensional.

Teknologi ini dianggap lebih aman karena mengurangi risiko panas berlebih dan kebakaran, sekaligus menawarkan kepadatan energi yang lebih tinggi.

Kalau diartikan mudahnya, mobil terbang bisa terbang lebih jauh dengan ukuran baterai yang relatif sama.

Su melihat industri penerbangan memiliki keuntungan tersendiri. Jika produsen mobil masih memikirkan biaya produksi baterai solid-state yang mahal, sektor eVTOL justru lebih fleksibel.

Biaya pembuatan pesawat terbang tradisional bisa mencapai 50 hingga 100 kali lebih mahal dibanding mobil. Oleh karena itu, penggunaan baterai generasi baru dalam jumlah terbatas masih dianggap ekonomis untuk kendaraan udara.

Produksi Massal Tak Akan Secepat Mobil

GAC Govy saat ini tengah menyiapkan Govy AirCab sebagai produk andalannya.

Mobil terbang tersebut mulai dibuka untuk pra-pemesanan pada 2025 dan resmi keluar dari jalur produksi pada Mei 2026.

Perusahaan menargetkan proses verifikasi kelaikan terbang dan Sertifikasi Tipe (TC) selesai pada akhir 2026.

Setelah itu, Sertifikasi Produksi (PC) diharapkan bisa diperoleh pada paruh pertama 2027.

Meski begitu, Su mengingatkan bahwa proses peningkatan produksi mobil terbang tidak akan semudah industri otomotif.

“Saya yakin peningkatan produksi mobil terbang akan lebih lambat daripada mobil konvensional karena mobil terbang membutuhkan iterasi yang ekstensif, verifikasi kelaikan terbang yang berkelanjutan, dan validasi proses manufaktur yang kompleks,” jelas Su.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Car News China

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU