Toyota Kijang Innova Zenix HEV Flexy Fuel Concept. (Dok. Toyota)
INDOZONE.ID - Toyota berencana berinvestasi di sektor bioetanol Indonesia senilai Rp2,5 triliun. Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menerapkan mandatori E10 (campuran 10% bioetanol ke BBM).
Proyek perdana akan dimulai di Lampung bersama Pertamina NRE dengan target pembentukan perusahaan patungan pada awal 2026.
Pemerintah Indonesia akan segera menerapkan kebijakan pencampuran 10% bioetanol ke bahan bakar (E10). Melihat peluang itu, Toyota dikabarkan siap masuk ke sektor bioetanol nasional.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengatakan kebutuhan bahan bakar nasional mencapai lebih dari 40 juta kiloliter per tahun. Dengan aturan E10, Indonesia memerlukan sekitar 4 juta kiloliter bioetanol pada 2027.
“Peluang inilah yang ditangkap oleh Toyota yang juga sudah mengembangkan mobil berbahan bakar bioetanol di banyak negara,” ujar Todotua dalam pernyataannya dilansir dari Antara, Kamis (13/11/2025).
Sebelumnya, Todotua bertemu CEO Toyota Motor Corporation untuk kawasan Asia, Masahiko Maeda, di Jepang. Keduanya juga mengunjungi fasilitas riset Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RABIT) di Fukushima.
Baca juga: Toyota All New Avanza Bagusnya Pakai BBM BP yang Mana? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini!
Pertemuan itu membahas rencana investasi Toyota dalam pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat swasembada energi, ekonomi hijau, dan hilirisasi sumber daya alam.
“Kami melihat potensi besar kerja sama dengan Toyota untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi bioetanol di kawasan,” ucap Todotua.
Toyota bersama RABIT kini tengah mengembangkan bioetanol generasi kedua yang bersumber dari biomassa nonpangan seperti limbah pertanian dan tanaman sorgum.
Baca juga: Budget 400 Juta, Ini 5 Mobil Toyota Terbaik yang Bisa Kamu Dapatkan dan Dijamin Nyaman!
Teknologi ini dinilai cocok dengan kondisi agrikultur Indonesia yang kaya sumber daya dan punya potensi besar untuk produksi berkelanjutan.
“Teknologi pabrik bioetanol generasi kedua ini bisa pakai berbagai macam limbah pertanian, jadi cocok untuk Indonesia yang punya banyak sumber seperti tebu, padi, singkong, sawit, dan aren,” jelasnya.
Kementerian Investasi telah menyiapkan beberapa wilayah, termasuk Lampung, sebagai sentra pengembangan industri bioetanol berbasis bahan baku lokal seperti tebu, singkong, dan sorgum.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara