Ilustrasi pemudik menggunakan sepeda motor. (Dok. Korlantas Polri.)
INDOZONE.ID - Mudik dengan sepeda motor masih menjadi pilihan banyak orang di Indonesia, terutama bagi mereka yang mengutamakan fleksibilitas dan efisiensi biaya. Di balik risiko perjalanan jauh, pengalaman mudik dengan motor justru menyimpan cerita beragam—mulai dari kebebasan menikmati perjalanan hingga tantangan menghadapi cuaca dan kondisi jalan.
Bagi Eva Sri Rahayu, penulis asal Bandung, perjalanan mudik dengan motor menghadirkan sensasi yang sulit digantikan moda transportasi lain. Ia mengaku bisa lebih leluasa menikmati suasana di sepanjang jalan.
“Karena memakai motor, tubuh tidak merasa terkungkung, termasuk ketika macet,” ujarnya.
Kebebasan ini membuat perjalanan terasa lebih hidup, bukan sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain.
Hal serupa dirasakan Reza Wardhana, penulis asal Surabaya. Ia menilai perjalanan mudik dengan motor justru menjadi bagian paling berkesan, bukan hanya tujuan akhirnya. Menurutnya, ada pengalaman sosial yang terasa kuat saat berada di jalan—melihat sesama pemudik, merasakan kemacetan, hingga perubahan suasana dari kota ke kampung halaman.
Baca juga: Kapasitas Beban Motor Matic untuk Mudik
“Seperti transformasi dari tempat tinggal yang serba ada ke suasana kampung nelayan yang gelap saat malam,” kata Reza.
Keduanya sepakat bahwa fleksibilitas menjadi keunggulan utama mudik dengan motor. Pengendara bisa berhenti kapan saja untuk beristirahat, makan, atau sekadar menikmati kopi di rest area. Tidak ada jadwal yang mengikat, seperti pada transportasi umum.
Namun, kebebasan itu juga diiringi pengalaman tak terduga. Eva pernah mengalami kecelakaan saat melewati tikungan tajam. Meski motornya melaju cukup cepat, ia beruntung hanya mengalami luka ringan.
Sementara itu, Reza memiliki pengalaman unik yang lebih ringan. Saat tiba di kampung halaman, ia sempat disalahartikan sebagai wartawan oleh keluarga besar istrinya karena pekerjaannya sebagai penulis artikel. Momen tersebut menjadi cerita lucu yang memperkaya pengalaman mudiknya.
Mengatur waktu perjalanan sendiri menjadi nilai tambah tersendiri. Eva mengaku kebebasan ini cocok dengan kebiasaannya yang sering tidak tepat waktu. Ia bisa berangkat kapan saja tanpa harus memikirkan tiket atau jadwal.
Reza juga merasakan hal serupa. Meski awalnya ingin berangkat pagi, ia harus menyesuaikan diri setelah berkeluarga. Namun, ia tetap menilai motor sebagai pilihan yang lebih privat dan fleksibel dibanding transportasi umum.
Baca juga: Ford Mudik 2026: Siap Tempur di Jalur Panjang Lebaran
Di balik kenyamanan tersebut, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Cuaca menjadi faktor utama yang kerap mengganggu perjalanan. Hujan, misalnya, membuat jalan licin, mengurangi jarak pandang, dan memaksa pengendara lebih berhati-hati.
Eva menyoroti pentingnya kewaspadaan, terutama saat membawa anak. Sementara Reza menambahkan bahwa hujan memang membuat perjalanan melambat, meski di sisi lain bisa mengusir rasa kantuk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara