INDOZONE.ID - Kebakaran pasca-tabrakan adalah ancaman nyata yang muncul ketika benturan keras merusak stabilitas sistem bahan bakar dan distribusi energi kendaraan.
Meski mobil zaman sekarang dilengkapi teknologi keselamatan tinggi, percampuran antara kerusakan mekanis dan bahan kimia tetap bisa memicu kobaran api yang cepat merambat.
Penting bagi pengendara bermotor untuk memahami mekanisme ini, karena benturan hebat tidak hanya merusak fisik mobil, tetapi juga mengacaukan perlindungan sistem internal yang dirancang untuk mencegah ledakan.
Lantas, apa saja faktor pemicu kebakaran mobil akibat tabrakan yang perlu diketahui? Simak informasi selengkapnya berikut ini!
Baca juga: Jangan Tertipu Tampilan, Ini 7 Ciri Motor Bekas Pernah Tabrakan
1. Kebocoran Sistem Bahan Bakar akibat Tekanan Mekanis Ekstrem
Pemicu utama kebakaran dalam kecelakaan lalu lintas adalah kegagalan integritas sistem bahan bakar, mulai dari tangki hingga jalur distribusi.
Energi kinetik dari benturan hebat mampu merobek struktur tangki atau memutus selang bahan bakar, menyebabkan kebocoran dalam bentuk cair maupun uap.
Cairan ini sangat reaktif, saat mengenai komponen bersuhu tinggi seperti blok mesin atau knalpot, bahan bakar akan menguap secara instan dan siap menyulut api.
Selain itu,uap bensin yang lebih berat dari udara akan mengendap di area bawah kendaraan, membentuk zona risiko yang luas dan sangat rentan terhadap percikan sekecil apa pun.
2. Hubungan Arus Pendek pada Sistem Kelistrikan Kendaraan
Kecelakaan dapat mengubah jaringan kabel kompleks pada mobil modern menjadi sumber bahaya.
Struktur logam yang penyok berisiko menjepit kabel utama baterai hingga menyebabkan isolasinya terkelupas. Akibatnya, muncul hubungan arus pendek yang melepaskan bunga api listrik dengan intensitas panas tinggi.
Percikan inilah yang sering kali menjadi pemantik utama bagi kebocoran bahan bakar, mengubah kerusakan mekanis menjadi kobaran api yang sulit dikendalikan.
Percikan listrik ini kerap kali menjadi pemantik utama saat bertemu dengan cairan yang mudah terbakar seperti bahan bakar, oli mesin, atau cairan pembersih kaca yang bocor akibat benturan.
Sementara mobil listrik, risiko ini bahkan lebih kompleks karena adanya potensi kerusakan pada sel baterai yang bisa memicu fenomena thermal runaway.
Dalam kondisi tersebut, baterai yang rusak menghasilkan panas internal yang terus meningkat secara mandiri, sehingga api menjadi sangat sulit dipadamkan walaupun sudah disiram air dalam jumlah banyak.
3. Paparan Cairan Kimia pada Komponen Mesin yang Panas
Tidak hanya bensin, ada juga berbagai cairan kimia lain di dalam ruang mesin yang memiliki titik nyala tertentu, seperti oli mesin, minyak rem, dan cairan transmisi. Dalam kondisi normal, cairan-cairan ini berada dalam wadah tertutup yang aman.
Baca juga: Gimana Ciri-ciri Mobil Bekas Tabrakan yang Telah Direstorasi? Ini 5 Tanda yang Harus Kamu Tahu!
Namun, benturan hebat bisa memecahkan wadah-wadah tersebut dan menyemprotkan isinya ke bagian mesin yang sedang berada dalam suhu operasional tinggi.
Suhu ratusan derajat pada manifold buang dapat menjadi pemantik spontan bagi cairan kimia kendaraan yang bocor akibat tabrakan.
Reaksi pembakaran ini kian cepat dengan masuknya udara melalui bodi yang rusak, bahkan api bisa merambat ke kabin dalam waktu singkat.
Sebagai langkah antisipasi, mobil terbaru kini dilengkapi dengan inertia switch. Fitur ini sangat penting karena mampu memutus aliran bahan bakar secara otomatis begitu sensor mendeteksi guncangan hebat, sehingga potensi penyebaran api dapat ditekan sejak dini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan