Selasa, 16 JUNI 2026 • 19:23 WIB

Stellantis Uji Baterai Solid-State di Dodge Charger, Era Baru Mobil Listrik Makin Dekat

Author

Stellantis Uji Baterai Solid-State. (ArenaEV)

INDOZONE.ID - Produsen otomotif dunia terus berlomba menghadirkan baterai yang lebih canggih untuk kendaraan listrik. Salah satu teknologi yang paling dinantikan adalah baterai solid-state, yang selama ini dianggap sebagai "holy grail" atau teknologi impian dalam industri kendaraan listrik karena menjanjikan jarak tempuh lebih jauh, pengisian daya lebih cepat, dan tingkat keamanan yang lebih baik.

Kini, langkah nyata menuju masa depan tersebut mulai terlihat. Grup otomotif global Stellantis resmi membawa teknologi baterai solid-state keluar dari laboratorium dan mengujinya langsung di jalan raya. Menariknya, teknologi mutakhir ini tidak dipasang pada mobil listrik kompak atau city car, melainkan pada mobil muscle car listrik berperforma tinggi, Dodge Charger Daytona.

Mobil tersebut saat ini digunakan sebagai kendaraan pengembangan untuk menguji performa baterai solid-state dalam berbagai kondisi penggunaan sehari-hari. Meski sudah terlihat siap digunakan di jalan umum, versi ini belum akan dijual kepada konsumen dalam waktu dekat karena masih berstatus prototipe.

Baca juga: Stellantis-Dongfeng Garap 4 Mobil Baru, Termasuk SUV Jeep Ramah Lingkungan

Kolaborasi dengan Perusahaan Teknologi Baterai

Dalam pengembangannya, Stellantis bekerja sama dengan Factorial, perusahaan teknologi baterai asal Massachusetts, Amerika Serikat. Nama Factorial memang belum terlalu populer di kalangan konsumen umum, tetapi perusahaan ini mendapat dukungan dari sejumlah raksasa otomotif dunia seperti Mercedes-Benz, Hyundai, Kia, dan Stellantis.

Kolaborasi tersebut bertujuan mempercepat pengembangan baterai generasi berikutnya yang diyakini akan menjadi standar baru kendaraan listrik di masa depan.

Apa Itu Baterai Solid-State?

Berbeda dengan baterai lithium-ion konvensional yang menggunakan elektrolit cair atau gel, baterai solid-state memakai material elektrolit padat.

Perubahan ini memungkinkan baterai menyimpan energi lebih banyak dalam ukuran yang lebih kecil dan bobot yang lebih ringan. Bagi industri otomotif, keunggulan tersebut sangat penting karena dua keluhan utama pengguna mobil listrik saat ini adalah bobot kendaraan yang berat dan jarak tempuh yang masih terbatas.

Baterai solid-state juga diklaim memiliki risiko kebakaran yang lebih rendah dibanding baterai lithium-ion konvensional, sehingga menawarkan tingkat keamanan yang lebih baik.

Pengisian Daya Lebih Cepat

Factorial mengungkapkan bahwa sel baterai solid-state yang digunakan memiliki kepadatan energi hingga 375 Wh/kg. Angka ini lebih tinggi dibanding sebagian besar baterai kendaraan listrik yang saat ini beredar di pasar.

Tak hanya itu, baterai tersebut diklaim mampu mengisi daya dari 15 persen hingga 90 persen hanya dalam waktu sekitar 18 menit. Jika teknologi ini berhasil diproduksi massal, waktu pengisian kendaraan listrik bisa menjadi jauh lebih singkat dibanding saat ini.

Tetap Optimal di Cuaca Ekstrem

Salah satu tantangan terbesar kendaraan listrik adalah performa baterai yang menurun saat menghadapi suhu ekstrem.

Namun, baterai solid-state yang dikembangkan Factorial diklaim mampu beroperasi dengan baik pada suhu mulai dari -30 derajat Celsius hingga 45 derajat Celsius. Kemampuan ini berpotensi menjadi solusi untuk penggunaan kendaraan listrik di berbagai wilayah dengan kondisi cuaca yang berbeda.

Baca juga: Stellantis Gandeng Dongfeng Produksi Mobil Listrik Voyah di Prancis

Potensi Besar untuk Masa Depan EV di Indonesia

Bagi pasar Indonesia, perkembangan teknologi baterai solid-state menjadi kabar yang menarik. Saat ini, mayoritas mobil listrik yang dipasarkan di Indonesia masih menggunakan baterai berbasis Lithium Iron Phosphate (LFP) maupun Nickel Manganese Cobalt (NMC).

Jika teknologi solid-state berhasil dikomersialisasikan dalam beberapa tahun mendatang, konsumen Indonesia berpotensi mendapatkan kendaraan listrik dengan jarak tempuh lebih jauh, waktu pengisian lebih cepat, serta usia baterai yang lebih panjang.

Hal ini juga dapat mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik nasional yang saat ini terus didorong pemerintah melalui berbagai insentif dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Pernah Tembus Lebih dari 1.200 Km

Potensi baterai solid-state sebenarnya sudah mulai terlihat dalam berbagai pengujian sebelumnya.

Tahun lalu, prototipe Mercedes-Benz EQS yang menggunakan baterai solid-state dari Factorial berhasil menempuh jarak 1.205 kilometer dalam sekali pengisian daya. Menariknya, setelah perjalanan tersebut selesai, mobil masih memiliki estimasi sisa jarak tempuh sekitar 137 kilometer.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa teknologi solid-state berpotensi mengubah standar kendaraan listrik di masa depan.

Saat ini, Stellantis masih merahasiakan kapasitas baterai yang digunakan pada Dodge Charger Daytona prototipe maupun estimasi jarak tempuh resminya. Namun, pengujian ini menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah teknologi solid-state benar-benar siap menggantikan baterai LFP dan NMC yang saat ini mendominasi pasar kendaraan listrik global.

Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, baterai solid-state berpotensi menjadi salah satu inovasi terbesar dalam industri otomotif dalam dekade mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ArenaEV

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU