Ilustrasi setir mobil. (Dok. Freepik.)
INDOZONE.ID - Setir mobil zaman sekarang terasa ringan saat berkendara bukan karena tanpa alasan.
Di balik kemudahan itu, ada sistem bernama power steering yang bekerja meringankan tenaga yang dibutuhkan pengemudi saat memutar setir.
Yuk kenali satu per satu perbedaan sistem power steering mobil dan gimana cara perawatannya.
Power steering hidrolik atau sering disingkat HPS adalah tipe klasik yang sudah lama digunakan di berbagai mobil. Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan fluida sebagai media penghantar tenaga, sementara sumber tenaganya berasal langsung dari putaran mesin.
Cara kerjanya, ketika setir diputar, serangkaian katup akan membuka aliran hidrolik dari pompa menuju rack steer. Selama mesin menyala, putaran mesin akan meningkatkan tekanan hidrolik yang kemudian disalurkan ke rack steer, tempat fluida bekerja mendorong arah kemudi sesuai keinginan pengemudi.
Baca juga: Power Steering Berat atau Bocor? Ini Biaya Perbaikan dan Penyebab Kerusakannya
Komponen utama dalam sistem ini meliputi pompa power (mengubah sebagian energi mesin jadi tekanan hidrolik), steering rack (rangkaian roda gigi berisi ruang fluida untuk power assist).
Pinion dan vane (mengatur arah aliran fluida sesuai putaran kemudi), fluida sebagai penghantar tekanan, serta reservoir sebagai tempat penampung cadangan fluida.
Berbeda dari HPS, Electric Power Steering atau EPS sama sekali tidak menggunakan fluida, melainkan mengandalkan tenaga listrik untuk meringankan putaran setir. Sistem ini mulai bekerja lewat sensor arah kemudi yang mendeteksi momen puntir (torsi) saat setir diputar.
Data dari sensor tersebut kemudian jadi acuan bagi motor steer untuk memutar rack steer sesuai kebutuhan. Ketika motor steer sudah menerima sinyal dari sensor, motor listrik ini langsung bekerja membantu meringankan tenaga putaran setir.
Komponen yang berperan dalam sistem EPS antara lain steering rack, steering motor, torque sensor (sensor yang mendeteksi kecepatan dan arah kemudi secara akurat), EPS module (yang menentukan kinerja motor berdasarkan data sensor), serta arus listrik sebagai sumber tenaganya.
Jenis ketiga adalah gabungan antara sistem elektrik dan hidrolik, atau biasa disebut Hybrid Power Steering (EHPS). Cara kerja steering rack pada sistem ini pada dasarnya mirip dengan sistem hidrolik konvensional, di mana steering vane tetap digunakan untuk menentukan arah bantuan tenaga (assist).
Bedanya, tekanan hidrolik pada sistem hybrid ini tidak lagi berasal dari pompa yang digerakkan mesin, melainkan dari pompa elektrik. Artinya, mesin tidak lagi terbebani secara langsung oleh kerja power steering, meski sistemnya tetap memanfaatkan fluida hidrolik sebagai media penghantar tenaga ke rack steer.
Baca juga: Banyak Digunakan, Ini 5 Keuntungan Power Steering di Mobil Terbaru yang Bikin Perjalanan Nyaman!
Karena mekanisme kerjanya berbeda, cara merawat masing-masing sistem juga tidak bisa disamakan. Untuk mobil dengan HPS atau EHPS, rutin mengecek volume dan kondisi fluida power steering jadi hal wajib.
Termasuk segera menindaklanjuti kalau muncul tanda-tanda kebocoran seperti rembesan cairan di area kolong mobil dekat rack steer.
Sementara untuk mobil ber-EPS, perhatian lebih diarahkan pada kondisi kelistrikan mobil secara umum, karena performa EPS sangat bergantung pada kestabilan arus listrik dan kondisi sensor-sensornya.
Apapun jenis power steering yang dipakai mobilmu, servis berkala di bengkel tetap jadi kunci utama supaya sistem kemudi bekerja optimal dan tidak muncul gejala setir berat atau bunyi aneh saat diputar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Auto 2000, Toyota