INDOZONE.ID - Mobil listrik atau electric vehicle (EV) yang tiba-tiba berhenti saat melintasi rel kereta api umumnya dipicu oleh mekanisme teknis pada sistem kelistrikan dan proteksi. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Agus Purwadi, menjelaskan bahwa penyebabnya berbeda mendasar dibanding mobil berbahan bakar minyak atau internal combustion engine vehicle.
“Berbeda dengan mobil ICE yang mati karena masalah pasokan bahan bakar atau pengapian, EV biasanya mati karena kegagalan pada sistem manajemen energi atau sirkit proteksi,” kata Agus saat dihubungi dari Jakarta, Kamis.
Salah satu titik krusial ada pada baterai 12 volt (auxiliary battery). Meski EV menggunakan baterai utama bertegangan tinggi, sistem penting seperti komputer kendaraan, sensor, dan kelistrikan dasar tetap bergantung pada baterai kecil ini.
“Ini adalah penyebab paling umum. Meskipun memiliki baterai traksi bertegangan tinggi (HV), sistem komputer, lampu, dan sensor EV dijalankan oleh baterai 12V biasa. Jika baterai 12V drop atau mati, main relay tidak bisa menutup, sehingga daya dari baterai besar tidak bisa mengalir ke motor penggerak. Mobil akan mati total meskipun persentase baterai utama masih 80 persen,” ujar Agus.
Baca juga: Dorong Mobilitas Korporasi Berkelanjutan, Putri Indonesia 2026 Gunakan Kendaraan Listrik
Komponen main relay sendiri berfungsi sebagai saklar utama yang menghubungkan baterai tegangan tinggi dengan sistem penggerak. Jika relay ini gagal aktif, aliran energi otomatis terputus.
Selain itu, peran Battery Management System (BMS) juga sangat menentukan. Sistem ini terus memantau kondisi baterai dan inverter, termasuk suhu operasional.
“Jika inverter atau baterai mengalami overheating akibat kegagalan pompa pendingin atau cuaca ekstrem, sistem BMS akan memutus aliran daya secara mendadak untuk mencegah kebakaran atau kerusakan permanen,” katanya.
EV juga dilengkapi sistem pengaman tegangan tinggi seperti High Voltage Interlock Loop. Mekanisme ini dirancang untuk mendeteksi gangguan fisik atau kebocoran arus.
“Jika sensor mendeteksi adanya kebocoran arus ke sasis atau adanya soket kabel tegangan tinggi yang longgar akibat guncangan di rel kereta yang tidak rata, sistem akan langsung melakukan emergency shut-off dalam hitungan milidetik,” imbuh Agus.
Faktor lain yang bersifat lebih jarang adalah gangguan Electromagnetic Interference di area rel kereta. Medan elektromagnetik yang kuat berpotensi mengganggu komunikasi data internal kendaraan, khususnya pada jaringan Controller Area Network (CAN).
Baca juga: Pakar Otomotif Ungkap Alasan Teknis Taksi Listrik Mendadak Mogok di Perlintasan Kereta
“Meskipun jarang dan teknologinya sudah semakin terproteksi, area perlintasan kereta api memiliki medan elektromagnetik yang kuat dari kabel transmisi atas pada KRL dan rel jalur balik. Pada unit dengan proteksi shielding yang kurang sempurna, EMI ekstrem berpotensi mengganggu komunikasi data pada Controller Area Network kendaraan, yang menyebabkan komputer salah membaca data dan mematikan sistem sebagai bentuk proteksi,” jelasnya.
Meski demikian, Agus menegaskan bahwa kemungkinan gangguan elektromagnetik ini relatif kecil.
Pendapat serupa disampaikan oleh pakar otomotif ITB lainnya, Yannes Martinus Pasaribu. Ia menilai mobil listrik modern telah dirancang dengan sistem perlindungan yang kuat terhadap interferensi elektromagnetik.
“Secara teknis, EV memiliki potensi yang sangat rendah untuk mati mesin secara mendadak saat melintasi rel kereta api karena medan elektromagnetik,” ujarnya saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu (29/4).
Menurutnya, kendaraan listrik masa kini sudah dilengkapi pelindung interferensi serta wajib melewati berbagai uji kompatibilitas elektromagnetik sebelum dipasarkan, sehingga risiko gangguan dari lingkungan eksternal dapat diminimalkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA