Deretan mobil bekas Mobil88 yang dipamerkan di sebuah pameran (INDOZONE/Wilfridus Kolo)
INDOZONE.ID - Banyak orang beranggapan kalau mobil bekas dengan kondisi mulus, jarak tempuh rendah, dan servis rutin pasti bisa dijual mahal. Namun, kenyataannya tidak selalu begitu.
Pasar mobil bekas memiliki dinamika tersendiri, sehingga meskipun mobil terlihat sempurna, nilainya bisa turun jauh di bawah ekspektasi pemiliknya.
Supaya kamu tidak kaget saat menjual mobil, ada baiknya memahami faktor-faktor yang memengaruhi harga jual. Berikut lima penyebab utama harga mobil bekas bisa turun drastis, meskipun kondisinya masih sangat baik.

Depresiasi adalah musuh utama semua kendaraan. Begitu mobil keluar dari dealer, nilainya langsung berkurang sekitar 10–15 persen. Dalam tiga tahun pertama, depresiasi bisa mencapai 20–30 persen, tergantung merek dan model.
Depresiasi ini terjadi meskipun mobil jarang dipakai atau dirawat dengan sangat baik. Bagi pembeli, mobil tetap dianggap 'bekas' begitu tercatat sebagai pemilik kedua.
Inilah alasan mengapa mobil baru kerap dianggap investasi yang nilainya akan terus turun.
Ilustrasi mobil bekas. (Pexels/Pixabay)
Pasar otomotif bergerak sangat cepat. Tren yang sedang naik, bisa membuat mobil dengan segmen tertentu dihargai tinggi, sementara yang lain justru terpuruk.
Contohnya, SUV dan crossover kini sedang populer, sehingga mobil sedan bekas sulit mempertahankan harga meskipun kondisi fisiknya sempurna.
Baca juga: Sering Dimanipulasi, Begini 5 Cara Mengecek Keaslian Odomoter Saat Membeli Mobil Bekas!
Begitu juga dengan tren mobil ramah lingkungan, seperti hybrid dan listrik, yang membuat sebagian calon pembeli mulai meninggalkan mobil bensin konvensional.
Jika mobil yang kamu jual tidak sesuai dengan tren saat ini, harganya bisa lebih rendah dibanding model lain dengan kondisi serupa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Auto 2000