Rabu, 27 AGUSTUS 2025 • 14:02 WIB

Insentif Mobil Listrik Impor Berakhir 2025, Apa Dampaknya ke Pasar EV Indonesia?

Author

Pabrik GAC AION di Purwakarta. (Dok. GAC AION)

INDOZONE.ID - Pemerintah belum memastikan perpanjangan insentif mobil listrik impor (CBU) yang berlaku hingga Desember 2025. Kemenperin menyebut sampai saat ini belum ada rapat atau diskusi dengan kementerian terkait, sehingga aturan insentif bisa berakhir sesuai regulasi yang ada.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono, menegaskan bahwa pihaknya belum membahas kelanjutan insentif mobil listrik impor.

"Terkait dengan insentif ini, memang sampai dengan hari ini, kami belum juga, atau belum ada sama sekali rapat atau pertemuan dengan kementerian/lembaga terkait keberlanjutan insentif ini," ujarnya dikutip Antara, Rabu (27/8/2025).

Menurutnya, wajar jika publik mengasumsikan insentif ini akan berakhir di akhir Desember 2025.

"Bisa kita asumsikan karena sampai hari ini belum ada diskusi dan pertemuan, sehingga asumsinya insentif ini akan berakhir sesuai regulasi yang ada," katanya.

Baca juga: Inovasi Otomotif Indonesia: Menyongsong Era Hybrid dan Listrik

Aturan Main

Pemerintah sebelumnya memberi insentif berupa pembebasan bea masuk, PPnBM, dan keringanan PPN bagi importasi mobil listrik CBU. Namun, ada syarat penting, yakni jumlah mobil yang diimpor harus seimbang dengan jumlah produksi dalam negeri (rasio 1:1).

Tampilan desain BYD Atto 1 terbaru yang tegas dan sporty. (Doc: BYD Indonesia)

Saat ini ada enam perusahaan penerima insentif, yaitu:

PT National Assemblers (Citroen, AION, Maxus)

PT BYD Auto Indonesia

PT Geely Motor Indonesia

PT VinFast Automobile Indonesia

PT Era Industri Otomotif (Xpeng)

PT Inchcape Indomobil Energi Baru (GWM Ora)

Enam perusahaan tersebut berkomitmen menanam investasi Rp15,52 triliun dengan target kapasitas produksi hingga 305 ribu unit.

Namun, kalau insentif dihentikan mendadak, ada risiko timeline investasi meleset atau dikurangi.

Harga Mobil Listrik Bisa Naik

Selain itu, tanpa insentif bea masuk, PPnBM, dan PPN, harga mobil listrik impor hampir pasti melonjak. Konsumen yang tadinya bisa beli EV dengan harga lebih terjangkau mungkin akan menahan diri.

Kalau insentif dihentikan, maka perusahaan mau tidak mau harus mempercepat pembangunan pabrik di Indonesia agar tetap bisa bersaing.

Populasi Kendaraan Listrik Terus Naik

Program percepatan ekosistem kendaraan listrik memang menunjukkan hasil positif. Hingga 2025, populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai 274.802 unit.

Angka ini melonjak signifikan dibanding 2024 yang mencatat 207 ribu unit, atau naik 78 persen dari tahun 2023 yang hanya 116 ribu unit.

GWM Ora 03 punya warna yang bisa beruba-ubah. (Indozone/Rachmat Fahzry)

Saat ini penjualan EV sedang naik pesat. Tapi kalau harga naik dan pilihan makin terbatas karena hambatan impor, pertumbuhan pasar bisa melambat meski minat masyarakat tinggi.

Sekarang merek-merek China (BYD, Wuling, Denza, Chery, Aion) mendominasi pasar EV. Kalau insentif impor berakhir, mereka harus segera memperkuat produksi lokal agar tak kehilangan momentum.

China Dukung Transisi Hijau Indonesia

Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, menyatakan Beijing siap mendukung transisi hijau di tanah air lewat investasi di sektor kendaraan listrik.

“Kami mengerti bahwa transisi hijau juga adalah prioritas tertinggi dari pemerintah di Indonesia sehingga industri EV di China juga mungkin akan berkontribusi dengan perubahan hijau di sini,” kata Wang dalam perayaan 75 tahun hubungan diplomatik RI–China di Jakarta.

Pasar Mobil Listrik Didominasi Merek China

Menurut data Gaikindo per 13 Agustus 2025, penjualan mobil listrik di Indonesia pada Januari–Juli sudah menembus 42.178 unit. Angka ini hampir menyamai total penjualan sepanjang 2024 yang berjumlah 43.188 unit.

Berikut daftar mobil listrik BEV terlaris di Indonesia (Januari–Juli 2025):

BYD: 16.427 unit

Denza: 6.256 unit

Wuling: 6.210 unit

Chery: 5.196 unit

Aion: 3.126 unit

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU