INDOZONE.ID - President of GAC International, Wei Haigang, menegaskan bahwa perusahaannya tidak akan ikut-ikutan dalam perang harga yang saat ini marak terjadi di industri otomotif. Hal itu ia sampaikan saat ditemui di sela Beijing Auto Show 2026.
Menurut Wei, persaingan harga di China bahkan sudah jauh lebih ketat dibandingkan kawasan Asia Tenggara. Meski begitu, GAC memilih jalur berbeda dengan tetap menjaga posisi harga di level yang dianggap wajar.
“Di China, perang harga sudah sangat ketat. Tapi kami tidak ingin ikut arus itu. Kami ingin menawarkan produk yang punya nilai, bukan sekadar murah,” ujarnya.
Baca juga: GAC Group Bidik Penjualan Global Hingga 300 Ribu Unit pada 2026
Ia menambahkan, strategi yang dijalankan bersama Indomobil di Indonesia juga mengarah pada hal yang sama, yakni menyeimbangkan antara harga, kualitas, dan fitur yang didapat konsumen.
Bagi GAC, harga rendah bukan satu-satunya cara menarik pembeli. Wei menilai, konsumen juga mempertimbangkan kualitas kendaraan serta layanan setelah pembelian.
Karena itu, perusahaan memberi perhatian pada sektor purna jual. Ia menilai, harga yang ditekan terlalu rendah sering kali berdampak pada kualitas layanan.
“Kami ingin memastikan konsumen tetap mendapat layanan yang baik. Jadi bukan hanya soal harga, tapi juga pengalaman setelah membeli,” katanya.
Wei juga menyebut bahwa strategi perang harga tidak selalu sehat untuk jangka panjang. Jika terus dilakukan, hal itu bisa memengaruhi keberlangsungan bisnis, terutama dari sisi kualitas produk dan layanan.
Baca juga: MPV G8, Simbol GAC Melihat Masa Depan Mobilitas di Indonesia
Di sisi lain, Indonesia dinilai sebagai pasar yang penting bagi GAC. Kerja sama dengan Indomobil diharapkan bisa membantu memperluas jangkauan sekaligus memperkuat posisi di kawasan Asia Tenggara.
Ia optimistis, dengan pendekatan yang lebih fokus pada nilai produk, GAC bisa bersaing tanpa harus terlibat dalam persaingan harga yang terlalu agresif.
Sebagai catatan, perang harga saat ini masih banyak terjadi, termasuk di segmen mobil listrik. Sejumlah produsen, terutama dari China, menggunakan strategi tersebut untuk mendorong penjualan dan menarik konsumen baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA