Ilustrasi isi bbm ron tinggi. (freepik)
INDOZONE.ID - Inovasi baru menarik perhatian publik ialah muncul Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos atau Bobibos. Meski menjadi angin segar, dinilai bahan bakar ini harus melakukan proses pengujian terlebih dahulu.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pakar energi Universitas Islam Riau, Ira Herawati. Ira menyebut inovasi ini memerlukan pembuktian lebih lanjut oleh lembaga yang kredibel, sebelum bisa betul-betul menggantikan sumber energi yang sudah ada.
Ilustrasi mobil isi BBM. (dok. Freepik)
"Karena jangan-jangan justru lebih besar pula ini ongkosnya atau mungkin after effect-nya. Mungkin untuk jangka pendek bisa menjawab, tapi jangka panjang setelah itu seperti apa?," kata Ira, seperti dikutip pada Sabtu (15/11/2025).
"Jadi, saya pikir ini sesuatu hal angin segar yang perlu diberi ruang untuk apresiasi, tapi juga memang perlu pembuktian lebih lanjut," sambungnya.
Baca juga: 5 Motor Matic untuk Anak Kos: Harga Pas di Kantong dan Irit Bahan Bakar!
Menurutnya, langkah pemerintah saat ini yang melakukan uji laboratoris terhadap Bobibos, dinilainya sudah sangat tepat. Pasalnya, setelah dilakukan pengujian, bahan bakar tersebut baru bisa ditentukan layak digunakan massal atau tidak, termasuk memiliki hak paten.
"Uji lab ini bukan tidak mematahkan ya semangat anak bangsa untuk berkontribusi secara penelitian, penemuan dan segala macam. Itu kita perlu bantu apresiasi, memberikan paten yang bagus kepada mereka," jelas Ira.
Ekonom dari Universitas Persada Bunda Indonesia, Riyadi Mustofa, juga menyambut baik inovasi energi yang muncul di masyarakat seperti Bobibos.
Meski begitu, Riyadi mengingatkan, Bobibos perlu melalui berbagai tahapan uji coba sebelum akhirnya bisa dijual secara umum ke masyarakat.
"Kalau sudah komersial, sudah memiliki nilai ekonomis, ya (Bobibos) harus diurus izinnya, harus ada izin operasional, tata cara pembuatannya, izin edar. Karena itu barang dijual," kata Riyadi.
Baca juga: 10 Mobil Keluarga Terbaik 2025: Pilihan Hemat Bahan Bakar dengan Fitur Lengkap
Sementara itu, pakar komunikasi publik Universitas Riau (Unri), Chelsy Yesicha, menilai Bobibos merupakan bagian dari kreativitas publik untuk memenuhi kebutuhan energi alternatif.
Oleh sebab itu, menurutnya, pemerintah perlu merangkul penemuan ini. Sebab, sejalan dengan tujuan pemerintahan menciptakan swasembada energi yang termasuk dalam asta cita Presiden Prabowo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan, Wawancara