Stellantis Uji Baterai Solid-State. (ArenaEV)
INDOZONE.ID - Produsen otomotif dunia terus berlomba menghadirkan baterai yang lebih canggih untuk kendaraan listrik. Salah satu teknologi yang paling dinantikan adalah baterai solid-state, yang selama ini dianggap sebagai "holy grail" atau teknologi impian dalam industri kendaraan listrik karena menjanjikan jarak tempuh lebih jauh, pengisian daya lebih cepat, dan tingkat keamanan yang lebih baik.
Kini, langkah nyata menuju masa depan tersebut mulai terlihat. Grup otomotif global Stellantis resmi membawa teknologi baterai solid-state keluar dari laboratorium dan mengujinya langsung di jalan raya. Menariknya, teknologi mutakhir ini tidak dipasang pada mobil listrik kompak atau city car, melainkan pada mobil muscle car listrik berperforma tinggi, Dodge Charger Daytona.
Mobil tersebut saat ini digunakan sebagai kendaraan pengembangan untuk menguji performa baterai solid-state dalam berbagai kondisi penggunaan sehari-hari. Meski sudah terlihat siap digunakan di jalan umum, versi ini belum akan dijual kepada konsumen dalam waktu dekat karena masih berstatus prototipe.
Baca juga: Stellantis-Dongfeng Garap 4 Mobil Baru, Termasuk SUV Jeep Ramah Lingkungan
Dalam pengembangannya, Stellantis bekerja sama dengan Factorial, perusahaan teknologi baterai asal Massachusetts, Amerika Serikat. Nama Factorial memang belum terlalu populer di kalangan konsumen umum, tetapi perusahaan ini mendapat dukungan dari sejumlah raksasa otomotif dunia seperti Mercedes-Benz, Hyundai, Kia, dan Stellantis.
Kolaborasi tersebut bertujuan mempercepat pengembangan baterai generasi berikutnya yang diyakini akan menjadi standar baru kendaraan listrik di masa depan.
Berbeda dengan baterai lithium-ion konvensional yang menggunakan elektrolit cair atau gel, baterai solid-state memakai material elektrolit padat.
Perubahan ini memungkinkan baterai menyimpan energi lebih banyak dalam ukuran yang lebih kecil dan bobot yang lebih ringan. Bagi industri otomotif, keunggulan tersebut sangat penting karena dua keluhan utama pengguna mobil listrik saat ini adalah bobot kendaraan yang berat dan jarak tempuh yang masih terbatas.
Baterai solid-state juga diklaim memiliki risiko kebakaran yang lebih rendah dibanding baterai lithium-ion konvensional, sehingga menawarkan tingkat keamanan yang lebih baik.
Factorial mengungkapkan bahwa sel baterai solid-state yang digunakan memiliki kepadatan energi hingga 375 Wh/kg. Angka ini lebih tinggi dibanding sebagian besar baterai kendaraan listrik yang saat ini beredar di pasar.
Tak hanya itu, baterai tersebut diklaim mampu mengisi daya dari 15 persen hingga 90 persen hanya dalam waktu sekitar 18 menit. Jika teknologi ini berhasil diproduksi massal, waktu pengisian kendaraan listrik bisa menjadi jauh lebih singkat dibanding saat ini.
Salah satu tantangan terbesar kendaraan listrik adalah performa baterai yang menurun saat menghadapi suhu ekstrem.
Namun, baterai solid-state yang dikembangkan Factorial diklaim mampu beroperasi dengan baik pada suhu mulai dari -30 derajat Celsius hingga 45 derajat Celsius. Kemampuan ini berpotensi menjadi solusi untuk penggunaan kendaraan listrik di berbagai wilayah dengan kondisi cuaca yang berbeda.
Baca juga: Stellantis Gandeng Dongfeng Produksi Mobil Listrik Voyah di Prancis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ArenaEV