INDOZONE.ID - Transisi ke kendaraan listrik bukan cuma soal teknologi baru, tapi soal masa depan kota yang lebih bersih dan efisien.
Itulah semangat yang dibawa MOV-E: Moving Cities the Electric Way, acara hasil kolaborasi ITDP Indonesia, ViriyaENB, dan ENVELOPS Co., Ltd. di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
Lewat pameran, instalasi interaktif, dan talk show, MOV-E menghubungkan hasil riset, kebijakan, dan praktik nyata untuk mempercepat elektrifikasi transportasi di Indonesia.
Kenapa Mobilitas Listrik Penting?
Pemerintah menargetkan penurunan emisi hingga 43,20% pada 2030 dengan bantuan internasional, menuju net zero emission 2060.
Sayangnya, adopsi kendaraan listrik di Indonesia masih di bawah 1% dari total populasi kendaraan nasional.
Menurut riset ITDP dan ViriyaENB, elektrifikasi armada bus perkotaan bisa memangkas emisi gas rumah kaca sampai 66,7% pada 2040 dan menghemat subsidi transportasi hingga 30%.
“Transisi ke bus listrik bukan hanya soal mengganti teknologi, tapi membuka peluang bagi kota-kota di Indonesia untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang lebih efisien, bersih, dan terjangkau,” ujar Gonggomtua Sitanggang, Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia.
Logistik Hijau, Ekonomi Ikut Bergerak
Selain transportasi publik, elektrifikasi juga penting di sektor logistik perkotaan, salah satu urat nadi ekonomi kota.
Data Statista (2024) menunjukkan pasar logistik Indonesia bisa tumbuh 45,6% hingga 2030, menjadikannya lahan besar bagi inovasi kendaraan listrik.
“Ketika sektor logistik ikut beralih ke energi bersih, kita tidak hanya menurunkan emisi, tapi juga membuka peluang kerja hijau dan mewujudkan kota yang lebih sehat,” kata Suzanty Sitorus, Direktur Eksekutif ViriyaENB.
Infrastruktur dan Akses
Meski biaya pengisian kendaraan listrik di Indonesia termasuk yang paling murah di dunia, survei menunjukkan hambatan utamanya ada di akses infrastruktur.
Keterbatasan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan fasilitas home charging membuat masyarakat masih ragu beralih.
Untuk pengisian di rumah, prosedur menaikkan daya listrik dan instalasi alat cas masih dianggap rumit.
Sementara pembangunan SPKLU butuh insentif bagi industri agar penyebarannya lebih cepat dan merata.
Riset ITDP juga meneliti perilaku pengguna di wilayah-wilayah prioritas seperti Jabodetabek, Kedungsepur, dan Mamminasatapa, serta kawasan tier 2 seperti Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, Bantul).
Investasi yang Berlipat
Dari sisi ekonomi, transisi menuju kendaraan listrik justru menguntungkan.
Studi ITDP menunjukkan, investasi untuk mencapai 100% armada transportasi publik listrik di kota-kota besar hingga 2030 bisa memberi manfaat sosial dan lingkungan 2,4 kali lipat dari nilai investasinya.
Suara dari Lapangan
Dalam sesi “Dua Roda, Nol Emisi”, Alitt Susanto, content creator otomotif, mengungkap banyak orang tertarik dengan motor listrik tapi masih ragu.
“Ada dua alasan yang paling sering muncul: harga awal yang masih tinggi dan keterbatasan infrastruktur cas. Buat banyak orang, yang dilihat pertama adalah harga beli, bukan biaya jangka panjang,” ujarnya.
Menurutnya, standar kualitas motor listrik juga penting agar konsumen tidak kecewa. “Mungkin perlu ada regulasi soal standarisasi kendaraan listrik, biar orang gak salah pilih,” tambah Alitt.
Saat Bisnis Mulai Bergerak
Dari sisi industri, Albert Aulia Ilyas, CEO KALISTA, melihat transisi armada listrik sebagai peluang besar.
“Bagi banyak pelaku bisnis, EV masih belum jadi fokus utama karena biaya awal dan infrastruktur. Tapi justru di situ peluangnya,” ujarnya.
KALISTA menghadirkan solusi lengkap. Mulai dari penyediaan unit, sistem monitoring real-time, hingga pengembangan pola pengisian daya agar proses transisi berjalan efisien dan terintegrasi.
Gerakan Bersama Menuju Kota Rendah Emisi
MOV-E bukan sekadar acara, tapi ruang kolaborasi bagi masyarakat, pelaku industri, dan pembuat kebijakan untuk mempercepat transisi mobilitas listrik di Indonesia.
“Transisi kendaraan listrik bukan cuma soal teknologi, tapi juga perubahan sistemik—dari infrastruktur hingga perilaku pengguna,” tutup Gonggomtua Sitanggang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan