Buzzer Bikin Review Jelek Mobil Listrik, China Bongkar Operasi Terorganisir Konten Negatif
INDOZONE.ID - Kepolisian China di Yantai mengungkap operasi online terorganisir alias buzzer, yang sengaja memproduksi dan menyebarkan konten negatif soal industri otomotif, khususnya mobil listrik.
Targetnya para pelaku adalah produsen mobil listrik, yakni Xiaomi, Harmony Intelligent Mobility Alliance (Huawei), dan Li Auto.
Kasus ini mencuat setelah para produsen mobil tersebut melayangkan pengaduan resmi.
Sejak Juli, mereka mencatat lonjakan konten negatif yang dinilai terkoordinasi dan merusak reputasi merek.
Polisi China Tangkap 12 Orang
Melansir Carnewschina, penyelidikan berlangsung selama empat bulan. Hasilnya, polisi China menangkap 12 tersangka, menyita lebih dari 1 juta yuan (sekitar Rp2,2 miliar), dan menutup lebih dari 8.000 akun online.
Pengumuman ini disampaikan langsung lewat akun resmi media sosial Keamanan Publik Yantai. Aparat menyebut aktivitas tersebut mengganggu operasional bisnis di sektor kendaraan energi baru China.
Bukan Keluhan Konsumen Biasa
Menurut polisi, konten yang beredar bukan sekadar opini konsumen. Ada pola yang jelas dan berulang.
Beberapa unggahan sengaja memelintir informasi publik untuk mendiskreditkan produsen mobil. Ada juga akun yang memalsukan identitas konsumen, lengkap dengan cerita kepemilikan kendaraan yang ternyata fiktif.
Konten-konten ini lalu disalin, ditulis ulang, dan diperbesar skalanya. Kasus kecil dikemas ulang menjadi artikel panjang atau video pendek agar viral.
Jejak Kelompok Influencer Bayaran
Dari lebih dari 3.000 artikel negatif yang dianalisis, polisi menemukan pola mencurigakan. Akun-akun tersebut rata-rata baru dibuat, aktivitasnya tidak wajar, dan alamat IP tersebar luas.
Ciri ini mengarah pada praktik yang di China dikenal sebagai kelompok pengaruh online berbayar alias buzzer jika di Indonesia. Tujuannya simpel: mendulang trafik dan uang dari keterlibatan platform digital.
AI Dipakai untuk Produksi Konten Massal
Investigasi juga menemukan penggunaan alat teknis canggih. Kelompok ini memanfaatkan kata kunci populer seperti Xiaomi, Huawei, dan Li Auto untuk menjaring perhatian.
Polisi menyebut kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk memproduksi konten berkualitas rendah secara massal. Konten ini bersifat repetitif, dangkal, dan dibuat semata untuk menghasilkan pendapatan iklan.
Penelusuran Data hingga Transaksi Keuangan
Untuk mengamankan bukti, penyidik menelaah lebih dari 80.000 informasi daring dan 100.000 catatan transaksi keuangan. Dari sini, struktur organisasi, pembagian peran, hingga alur kerja kelompok berhasil dipetakan.
Penangkapan dilakukan serentak di Yantai dan Liaocheng setelah bukti dinilai cukup kuat.
Li Auto Angkat Bicara
Di hari yang sama, departemen hukum Li Auto mengonfirmasi adanya serangan daring terorganisir terhadap perusahaan dan konsumennya.
Perusahaan menyebut serangan tersebut mencakup dugaan penyalahgunaan data pribadi, informasi bisnis palsu, hingga klaim keliru soal kualitas produk.
Li Auto memastikan para tersangka telah dikenai tindakan hukum wajib sesuai aturan yang berlaku.
Aparat menegaskan penegakan hukum dilakukan sesuai hukum China terhadap aktivitas daring terorganisir ,yang merusak ketertiban pasar dan mengganggu operasional perusahaan.
Mereka menekankan bahwa manipulasi opini publik demi keuntungan digital bukan sekadar pelanggaran etika, tapi sudah masuk ranah pidana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Carnewschina