Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 11:55 WIB

Mobil Listrik Lebih Awet dari Mobil Bensin? Peneliti dari Universitas Hanoi Kasih Bukti Ilmiahnya

Author

Ilustrasi mobil listrik. Mobil listrik lebih awet dibanding mobil bensin? (Freepik.)

INDOZONE.ID - Apakah mobil listrik lebih awet dibandigkan dari mobil bensin? Pertanyaan ini coba dijawab secara ilmiah dari peneliti Universitas Hanoi, Vietnam.

Sejumlah riset terbaru menunjukkan mobil listrik menua lebih lambat dan berpotensi punya umur pakai lebih panjang dibanding mobil bensin.

Data ratusan juta inspeksi kendaraan dan uji lapangan membuktikan tingkat kegagalan mobil listrik lebih rendah, terutama setelah usia dan jarak tempuh tertentu.

Melansir vtv.vn, temuan tersebut dipresentasikan oleh tim peneliti BK AUTO dari Universitas Sains dan Teknologi Hanoi pada International Conference on Manufacturing and Production Technology (ICMPT) 2026 di Malaysia.

Penelitian ini dipimpin oleh Assoc. Prof. Dr. Dam Hoang Phuc, Direktur Program Teknik Otomotif Universitas Sains dan Teknologi Hanoi.

Timnya menganalisis lebih dari 300 juta data inspeksi teknis kendaraan di Inggris.

Hasilnya cukup mencolok. Kendaraan listrik generasi baru yang diproduksi setelah 2015 memiliki usia pakai rata-rata hingga 18,4 tahun.

"Angka ini sama dengan, atau bahkan lebih tinggi dari, mobil bertenaga bensin, meskipun penggunaannya lebih intensif," tulis laporan studi tersebut.

Pabrik VinFast di Subang, Jawa Barat, juga memproduksi motor listrik selain mobil. (Indozone/Rachmat Fahzry)

Untuk memperdalam analisis, peneliti menggunakan model Weibull guna memetakan probabilitas kegagalan kendaraan dari waktu ke waktu.

Baca juga: VinFast Limo Green Masuk Indonesia, MPV Listrik 7 Penumpang yang Siap Bikin Pasar Panas

Baca juga: Apa Penyebab Mobil Listrik Terbakar? Simak Penyebab dan Perlindungannya Terhadap Konsumen!

Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan. Mulai usia 12 tahun, tingkat kegagalan mobil bensin mencapai 81,3%, sementara mobil listrik berada di angka 62,7%.

Pada tahun ke-15, mobil bensin nyaris mencapai batasnya dengan tingkat kegagalan 98,3%. Mobil listrik masih lebih “sehat” di angka 86,3%.

Menurut tim peneliti, kunci utama daya tahan mobil listrik ada pada struktur mekanisnya yang lebih sederhana.

Mesin dan transmisi kendaraan bensin memiliki banyak komponen bergerak yang rentan aus.

Sebaliknya, sistem penggerak listrik punya lebih sedikit bagian bergerak, sehingga risiko keausan mekanis jauh lebih rendah.

Hal ini membuat performa kendaraan listrik lebih stabil seiring bertambahnya usia.

Tak hanya mengandalkan data internasional, tim BK AUTO juga menganalisis hampir 5.700 kendaraan di Vietnam selama periode 2020–2024.

BYD ATTO 3 Advanced bisa tembus 410 km sekali cas. (Indozone/Rachmat Fahzry)

Kendaraan yang diteliti mencakup mobil listrik asal Vietnam, VinFast dan berbagai mobil bensin dari merek lain.

Mereka meneliti yang berfokus pada data perawatan, perbaikan, serta jarak tempuh harian.

Hasilnya penelitian bahwa semakin lama dan semakin jauh digunakan, keunggulan daya tahan mobil listrik makin terlihat jika dibandingkan dengan mobil bensin.

Penelitian menemukan titik menarik di jarak tempuh 40.000 km. Setelah melewati angka ini, tingkat kegagalan mobil listrik justru menurun signifikan.

Pada jarak 80.000–125.000 km, frekuensi kegagalan mobil listrik berada di kisaran 0,021–0,029 kali per 1.000 km.

Angka ini lebih rendah dibanding mobil bensin yang berada di 0,025–0,034.

"Mulai dari 40.000 km ke atas, sistem penggerak listrik beroperasi lebih stabil, dengan lebih sedikit kegagalan mekanis dan keausan fisik," tulis laporan tersebut.

Rem Lebih Awet Berkat Regenerative Braking

Keunggulan mobil listrik juga terlihat jelas pada sistem pengereman. Tim peneliti melakukan uji lapangan menuruni bukit sejauh 6 km di kawasan Ba Vi, Hanoi.

Pada uji ini, cakram rem SUV bensin mengalami lonjakan suhu dari 36,8 derajat celcius menjadi 147,6 derajat celcius. Sebaliknya, SUV listrik hanya naik tipis dari 33,4 derajat celcius ke 38,4 derajat celcius.

Penyebabnya adalah sistem regenerative braking yang membantu memperlambat kendaraan tanpa mengandalkan rem secara penuh.

Data statistik menunjukkan keausan cakram rem mobil listrik hanya sekitar 60–65% dibanding mobil bensin pada jarak tempuh yang sama.

"Lebih sedikit panas dan gesekan pada rem berarti masa pakai material yang lebih lama," tulis tim peneliti dalam analisisnya.

Isu lain yang sering disorot adalah bobot kendaraan listrik yang lebih berat.

Namun, hasil eksperimen menunjukkan suspensi mobil listrik justru bekerja dengan tegangan lebih rendah.

Hal ini disebabkan pusat gravitasi yang rendah dan distribusi bobot yang lebih merata.

Selain itu, suspensi mobil listrik umumnya dirancang lebih kuat untuk menyesuaikan karakter baterai.

Struktur yang lebih kaku membantu mengurangi deformasi elastis dan meningkatkan daya tahan jangka panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Vtv.vn

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU