INDOZONE.ID- Operasi Ketupat 2026 resmi ditutup, Rabu (25/3/2026), di Alun-alun Simpang Lima, Semarang.
Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho memimpin langsung penutupan tersebut.
Operasi Ketupat 2026 adalah operasi pengamanan lalu lintas nasional yang digelar Polri setiap tahun selama periode mudik dan arus balik Lebaran.
Tahun ini, operasi mencakup lima klaster pengamanan. jalan arteri, jalan tol, pelabuhan penyeberangan, tempat ibadah, dan lokasi wisata.
Ribuan personel tersebar di titik-titik krusial seluruh Indonesia. Mulai dari jalur pantura hingga penyeberangan Merak-Bakauheni.
Baca juga: Habis Mudik, Ini 5 Cara Menghilangkan Bau Apek di Kabin Mobil yang Bisa Dilakukan dengan Mudah!
Baca juga: Beres Mudik, Ini 5 Perawatan Penting Motor Matic yang Wajib Dicek Supaya Performanya Tetap Terjaga
Belum Benar-Benar Selesai
Penutupan operasi bukan berarti anggota langsung pulang.
Kakoorlantas menegaskan kegiatan rutin yang ditingkatkan (KRYD) tetap berjalan sampai 29 Maret 2026.
"Operasi Ketupat sudah ditutup, namun kegiatan rutin yang ditingkatkan tetap berjalan. Anggota masih berada di lapangan untuk mengantisipasi arus balik, termasuk arus balik kedua," kata Kakorlantas Irjen Pol. Agus Suryonugroho dikutip dari laman Korlantas, Kamis (26/3/2026).
Petugas masih berada di lapangan karena arus balik Lebaran kerap terjadi dalam dua gelombang.
Gelombang pertama biasanya langsung setelah Lebaran. Kemudian gelombang kedua menyusul beberapa hari kemudian, saat orang yang memilih liburan lebih panjang akhirnya kembali ke kota.
Per penutupan operasi, sejumlah wilayah aglomerasi masih terpantau ramai. Bandung, Bali, dan Malang Raya belum sepenuhnya normal.
"Hingga saat ini masih cukup padat di wilayah aglomerasi seperti Bandung, Bali, dan Malang Raya, karena masih banyak masyarakat melakukan silaturahmi lokal," jelas Agus.
One Way sampai Contraflow
Selama Operasi Ketupat 2026, berbagai skema rekayasa lalu lintas diterapkan.
One way nasional, one way lokal presisi, hingga perluasan contraflow di beberapa lajur Tol Trans Jawa dijalankan secara bertahap sesuai kebutuhan.
Pendekatan ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang cenderung menerapkan rekayasa secara seragam.
Tahun ini lebih adaptif. Eekayasa disesuaikan dengan volume kendaraan secara real-time.
"Dengan manajemen rekayasa lalu lintas yang terukur, arus mudik dan arus balik dapat dikelola dengan baik meskipun volumenya tinggi," ujar Agus.
Angka Kecelakaan Turun
Fatalitas korban kecelakaan turun 30,89 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Jumlah kejadian kecelakaan juga turun 5,75 persen.
Agus mengapresiasi kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dan kedisiplinan masyarakat.
"Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Negara hadir untuk memastikan perjalanan mudik dan balik berjalan aman, nyaman, dan penuh makna," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Korlantas Polri