INDOZONE.ID - Seiring meningkatnya penggunaan mobil listrik (EV) dan plug-in hybrid di berbagai negara, muncul kekhawatiran bahwa lonjakan jumlah kendaraan listrik dapat membebani jaringan listrik nasional. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa jika jutaan mobil listrik diisi daya secara bersamaan, pasokan listrik akan kolaps dan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun, benarkah kekhawatiran tersebut?
Faktanya, berbagai studi dan data menunjukkan bahwa jaringan listrik masih mampu mengakomodasi pertumbuhan kendaraan listrik, asalkan proses adopsinya berlangsung secara bertahap dan didukung pengelolaan energi yang tepat.
Kekhawatiran: Semua Mobil Listrik Mengisi Daya Bersamaan
Salah satu argumen yang sering muncul adalah simulasi yang memperkirakan kebutuhan listrik akan melonjak drastis jika seluruh kendaraan bermesin bensin dan diesel langsung digantikan oleh mobil listrik.
Sebagai contoh, Inggris memiliki sekitar 32,7 juta mobil. Jika seluruh kendaraan tersebut berubah menjadi mobil listrik dan diisi daya secara bersamaan menggunakan charger rumah berdaya 7 kW, kebutuhan listriknya bisa mencapai 229 GW. Angka tersebut lebih dari dua kali kapasitas jaringan listrik Inggris yang berada di kisaran 101 GW.
Sekilas, angka ini memang terlihat mengkhawatirkan. Namun, skenario tersebut sebenarnya hampir mustahil terjadi di dunia nyata.
Baca juga: Tidak Cuma Hemat, Pengguna Mobil Listrik Soroti Pentingnya Pahami Sistem Keselamatan EV
Adopsi Mobil Listrik Tidak Terjadi Dalam Semalam
Peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke mobil listrik berlangsung secara bertahap. Konsumen umumnya tidak langsung mengganti kendaraan yang masih layak pakai hanya karena teknologi baru hadir.
Selain itu, kapasitas produksi mobil listrik global juga belum memungkinkan seluruh masyarakat beralih ke EV dalam waktu singkat. Karena itu, peningkatan jumlah kendaraan listrik akan berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Di Indonesia sendiri, pasar kendaraan listrik masih terus berkembang. Berdasarkan tren saat ini, adopsi EV meningkat dari tahun ke tahun, tetapi porsinya masih jauh dibandingkan jumlah kendaraan konvensional yang beredar di jalan.
Mitos: Semua Pemilik EV Akan Mengisi Daya Pada Waktu yang Sama
Anggapan lain yang sering muncul adalah semua pengguna mobil listrik akan mengisi daya secara bersamaan sehingga menciptakan lonjakan beban yang sangat besar.
Pada kenyataannya, perilaku pengguna kendaraan listrik sangat beragam. Ada yang mengisi daya di rumah pada malam hari, ada yang menggunakan fasilitas pengisian di kantor, pusat perbelanjaan, maupun stasiun pengisian umum.
Jika menggunakan logika yang sama, seluruh masyarakat juga bisa saja menyalakan mesin cuci, AC, atau perangkat elektronik berdaya tinggi secara bersamaan. Namun kenyataannya, pola penggunaan listrik selalu tersebar sepanjang hari sehingga beban jaringan tetap dapat dikelola.
Konsumsi Listrik Mobil Listrik Tidak Sebesar yang Dibayangkan
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih realistis, perlu dilihat berapa jarak rata-rata kendaraan digunakan setiap tahun dan berapa konsumsi energinya.
Di Inggris, rata-rata mobil menempuh sekitar 6.500 mil per tahun. Dengan konsumsi energi sekitar 0,346 kWh per mil, kebutuhan listrik tahunan setiap kendaraan hanya sekitar 2.249 kWh.
Jika seluruh mobil di Inggris berubah menjadi kendaraan listrik, tambahan kebutuhan listrik nasional diperkirakan mencapai 73,5 TWh per tahun. Angka tersebut setara sekitar 22 persen dari total produksi listrik negara tersebut.
Artinya, kebutuhan listrik tambahan jauh lebih kecil dibandingkan skenario ekstrem yang memperkirakan lonjakan hingga 200 persen.
Hasil serupa juga ditemukan di kawasan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Berbagai perhitungan menunjukkan bahwa kebutuhan listrik tambahan akibat elektrifikasi kendaraan berkisar 20 hingga 33 persen dari total produksi listrik yang ada saat ini.
Indonesia Punya Peluang Besar Mendukung Pertumbuhan EV
Bagi Indonesia, perkembangan mobil listrik justru dapat menjadi peluang untuk memanfaatkan kapasitas pembangkit yang terus bertambah.
Pemerintah saat ini juga tengah mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan, termasuk tenaga surya, panas bumi, dan hidro. Selain itu, pembangunan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik terus dilakukan oleh berbagai pihak.
Sejumlah produsen otomotif seperti BYD, Hyundai, Wuling, Chery, hingga MG juga mulai agresif menghadirkan mobil listrik dengan harga yang semakin kompetitif di pasar Indonesia.
Tantangan Sebenarnya Ada di Jam Sibuk
Meski jaringan listrik secara umum mampu mendukung pertumbuhan kendaraan listrik, bukan berarti tidak ada tantangan.
Masalah utama yang perlu diantisipasi adalah peningkatan konsumsi listrik pada jam-jam puncak atau peak hour. Jika banyak kendaraan diisi daya pada waktu yang sama, distribusi listrik di wilayah tertentu bisa mengalami tekanan.
Karena itu, berbagai negara mulai menerapkan tarif listrik yang lebih murah pada malam hari agar pengguna EV terdorong melakukan pengisian daya di luar jam sibuk.
Selain itu, teknologi smart grid atau jaringan listrik pintar juga mulai dikembangkan untuk mengatur distribusi energi secara lebih efisien.
Teknologi Vehicle-to-Grid Jadi Solusi Masa Depan
Di masa depan, kendaraan listrik bahkan berpotensi membantu menjaga stabilitas jaringan listrik melalui teknologi Vehicle-to-Grid (V2G).
Teknologi ini memungkinkan baterai mobil listrik mengalirkan kembali energi ke jaringan saat dibutuhkan. Dengan kata lain, kendaraan tidak hanya menjadi konsumen listrik, tetapi juga bisa berfungsi sebagai penyimpan energi.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, V2G dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung sistem kelistrikan modern.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah mobil listrik tidak akan membuat jaringan listrik kolaps seperti yang sering dikhawatirkan.
Proses adopsi kendaraan listrik berlangsung secara bertahap, sementara teknologi pembangkit, distribusi energi, dan manajemen jaringan juga terus berkembang mengikuti kebutuhan.
Tantangan memang tetap ada, terutama terkait pengelolaan konsumsi listrik pada jam-jam sibuk. Namun secara keseluruhan, kapasitas jaringan listrik dinilai masih mampu mengakomodasi pertumbuhan kendaraan listrik di masa depan.
Dengan kata lain, salah satu hambatan terbesar dalam perkembangan mobil listrik bukanlah kemampuan jaringan listrik, melainkan bagaimana pemerintah, industri, dan penyedia energi mempersiapkan infrastruktur pendukungnya secara tepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ArenaEV