INDOZONE.ID - Ferrari 488 GTB milik seorang pria di Kunming, China, rusak setelah dijadikan perosotan oleh empat anak-anak.
Rekaman CCTV memperlihatkan aksi tersebut viral hingga ditonton lebih dari 60 juta kali di Douyin, media sosial di China mirip TikTok.
Setelah negosiasi dengan orang tua para anak gagal, sang pemilik memutuskan membawa kasus tersebut ke pengadilan.
Peristiwa ini terjadi pada akhir Mei 2026 di Kota Kunming, Provinsi Yunnan, China.
Menurut laporan media lokal, empat anak berusia di bawah 10 tahun menemukan Ferrari 488 GTB merah, yang sedang terparkir di area terbuka.
Mereka kemudian menjadikan mobil sport tersebut jadi arena bermain.
Baca juga: Luce Jadi Mobil Listrik Pertama Ferrari, Harga Diprediksi Capai Rp10 Miliar
CCTV memperlihatkan anak-anak memanjat kap mobil, duduk di kaca depan, naik ke atap, lalu meluncur di kaca seperti sedang bermain perosotan.
Belum berhenti di situ, mereka juga terlihat menusuk bodi mobil menggunakan batang bambu.
Video tersebut langsung menyebar di media sosial dan memicu perdebatan.
Banyak warganet menyoroti pengawasan orang tua, sementara yang lain mempertanyakan alasan mobil semahal itu diparkir di ruang terbuka.
Rugi Puluhan Juta Rupiah
Pemilik Ferrari mengetahui mobil mewahnya tersebut rusak usai pulang dari perjalanan bisnis.
Beberapa bagian mobil tergores, di antaranya kap mesin, atap, spatbor, lampu belakang, hingga kaca. Bemper depan juga dilaporkan retak.
Sebagai seorang ayah, pemilik mobil awalnya memilih menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
Ia bahkan tidak membawa Ferrari tersebut ke dealer resmi, karena memperkirakan biaya perbaikan bisa menembus lebih dari 100.000 yuan atau sekitar Rp220 juta.
Sebagai gantinya, ia memperbaiki mobil di bengkel bodi lokal dengan menggunakan suku cadang aftermarket. Total biaya yang dikeluarkan mencapai 29.360 yuan atau sekitar Rp70 juta.
Damai Gagal
Masalah muncul ketika proses mediasi berlangsung.
Pemilik Ferrari membawa bukti biaya perbaikan ke kantor polisi, dan bertemu orang tua anak-anak dalam dua sesi perundingan.
Namun menurut laporan South China Morning Post, orang tua hanya bersedia membayar kompensasi sebesar 5.000 yuan atau sekitar Rp12 juta.
Mereka juga disebut tidak meminta anak-anaknya menyampaikan permintaan maaf kepada pemilik mobil.
Akibat proses negosiasi yang nggak mencapai kesepakatan, pemilik Ferrari mengajukan gugatan perdata untuk meminta ganti rugi penuh.
Di China, gugatan perdata adalah proses hukum yang digunakan untuk menyelesaikan sengketa atau meminta ganti rugi atas kerusakan harta benda.
Anak-anak di bawah usia 14 tahun tidak dapat dikenai penahanan administratif, sehingga tanggung jawab hukum dialihkan kepada wali mereka.
Ferrari 488 GTB Bukan Mobil Biasa
Mobil yang menjadi korban dalam insiden ini adalah Ferrari 488 GTB.
Supercar bermesin V8 twin-turbo itu menghasilkan tenaga hingga 661 hp dan diproduksi antara 2015 hingga 2020 sebagai penerus Ferrari 458 Italia sebelum digantikan F8 Tributo dan 296 GTB.
Pemilik mengaku membeli mobil tersebut dalam kondisi baru seharga 3,6 juta yuan atau sekitar USD530.000 (sekitar 9,5 miliar). Dia juga mengklaim, mobil Ferrari-nya selalu mulus sebelum dijadikan perosotan oleh anak-anak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: South China Morning Post