INDOZONE.ID - Mobil yang lolos uji emisi umumnya punya pembakaran mesin lebih sehat dan efisien.
Artinya, konsumsi bensin juga bisa lebih hemat. Uji emisi sendiri adalah proses pengecekan kandungan gas buang kendaraan untuk melihat kondisi mesin dan sistem pembakaran.
Jadi, anggapan kalau uji emisi berhubungan dengan keiritan BBM ternyata bukan sekadar mitos.
Uji Emisi Bukan Sekadar Formalitas
Banyak orang masih menganggap uji emisi cuma syarat administrasi.
Padahal, proses ini bisa jadi “alarm awal” buat mendeteksi masalah di mesin mobil.
Kalau kadar karbon monoksida (CO) atau hidrokarbon (HC) terlalu tinggi, biasanya ada komponen yang mulai bermasalah.
Baca juga: Bukan Pakai Ritual, Ini Cara Kerja Ketok Magic yang Sebenarnya!
Mulai dari busi, filter udara, sampai sistem pembakaran yang sudah tidak optimal.
“Jika kandungan gas buang melebihi ambang batas yang ditetapkan, merupakan indikator ada komponen mesin yang bermasalah dan harus dicarikan solusinya, seperti mengatur setelan mesin atau mengganti komponen dengan yang baru agar sehat kembali,” terang Nur Imansyah Tara, Marketing Division Head Auto2000.
Secara sederhana, mesin yang sehat biasanya lebih efisien membakar bahan bakar. Efek samping positifnya, bensin jadi lebih awet.
Kenapa Mesin Sehat Bisa Lebih Irit?
Saat pembakaran di ruang mesin berlangsung sempurna, tenaga yang dihasilkan lebih maksimal dan bahan bakar tidak terbuang percuma.
Sebaliknya, mesin dengan pembakaran buruk bakal bekerja lebih berat. Mobil terasa tetap jalan normal, tapi konsumsi BBM diam-diam jadi lebih boros.
Banyak pemilik mobil baru sadar setelah isi bensin jadi lebih sering.
Makanya, uji emisi sering dipakai sebagai indikator kesehatan mesin.
Bahkan di kota besar seperti Jakarta, pemeriksaan ini makin relevan karena kualitas udara dan aturan kendaraan mulai diperketat.
Batas Emisi Mobil Bensin di Indonesia
Mengacu pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2006, mobil bensin produksi 2007 ke atas memiliki batas emisi maksimal:
- Karbon monoksida (CO): 1,5 persen volume
- Hidrokarbon (HC): 200 ppm volume
Pengujian dilakukan dalam kondisi idle atau mesin menyala tanpa berjalan.
Kalau hasilnya melewati ambang batas, biasanya mobil perlu servis atau pengecekan lebih lanjut.
Cara Biar Mobil Lolos Uji Emisi
Filter Udara dan Saluran BBM Harus Bersih
Filter udara yang kotor bikin suplai oksigen ke ruang bakar terganggu.
Akibatnya, pembakaran tidak sempurna dan angka HC meningkat.
Masalah sepele, efeknya lumayan besar.
Periksa Koil dan Busi
Koil dan busi punya peran penting dalam proses pembakaran. Kalau salah satunya mulai lemah, konsumsi bensin biasanya ikut naik.
Gejalanya kadang samar. Tarikan mobil terasa biasa saja, tapi BBM cepat habis.
Oli Mesin Jangan Diabaikan
Oli yang sudah jelek bisa membuat kerja mesin lebih berat. Dalam beberapa kasus, oli juga bisa ikut terbakar dan meningkatkan emisi gas buang.
Karena itu, servis berkala sebenarnya bukan cuma soal menjaga performa. Ada pengaruh langsung ke efisiensi bahan bakar.
Sensor Oksigen dan Catalytic Converter Wajib Sehat
Sensor oksigen membantu mengatur campuran udara dan BBM supaya ideal.
Sementara catalytic converter bertugas menyaring zat berbahaya dari gas buang.
Kalau dua komponen ini bermasalah, emisi naik dan konsumsi BBM biasanya ikut berantakan.
Hindari Modifikasi Berlebihan
Beberapa modifikasi mesin memang bikin mobil terasa lebih kencang.
Tapi konsekuensinya sering berupa pembakaran lebih boros dan emisi lebih tinggi.
Apalagi kalau setelan udara dan bahan bakarnya dibuat terlalu kaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Auto 2000