INDOZONE.ID – Dominasi produsen kendaraan listrik asal China di pasar global dinilai bukan alasan bagi Indonesia untuk mundur.
Justru, kondisi tersebut disebut bisa menjadi pemicu agar industri otomotif nasional bergerak lebih cepat membangun kendaraan listrik dengan merek lokal dan kandungan dalam negeri yang semakin besar.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat menghadiri peluncuran armada kendaraan listrik baru Grab di Jakarta, Senin (30/6/2026).
Menurut AHY, China memang menjadi pemain terbesar di industri kendaraan listrik dunia.
Namun, keberhasilan itu tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh pengembangan teknologi dan riset.
"Tiongkok bisa dikatakan merajai pasar EV dunia, banyak yang kemudian merasa berat menghadapi Tiongkok. Tapi juga jangan lupa namanya memulai, tentu diawali dengan ketidaksempurnaan, penuh trial and error kemudian pengembangan diikuti dengan riset-riset berikutnya," kata AHY dikutip dari Antara, Selasa (30/6/2026).
Baca juga: Deretan Mobil Listrik Tebar Diskon Besar di Jakarta Fair 2026
Ia menilai Indonesia memiliki bekal yang cukup kuat untuk mengembangkan industri kendaraan listrik sendiri.
Selain memiliki cadangan nikel yang besar sebagai bahan baku baterai, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang dinilai mampu mengembangkan teknologi otomotif.
Targetkan EV Buatan Indonesia
AHY mengatakan pemerintah ingin mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap agar semakin banyak komponen kendaraan listrik diproduksi di Indonesia.
"Dimulai dari komponen TKDN yang lebih banyak. Jadi katakanlah belum bisa 100 persen TKDN-nya harus semakin banyak dan mendominasi. Lama-kelamaan nanti benar-benar bisa 100 persen buatan Indonesia dan teknologinya kita juga tidak tertinggal. Karena kita punya putra-putri terbaik, engineers-engineers terbaik, dan kita bisa melakukan joint research dan joint production," ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah merek asal China memang semakin agresif masuk ke pasar Indonesia.
Persaingan tersebut dinilai bisa menjadi momentum bagi industri otomotif nasional untuk memperkuat kemampuan produksi dan penguasaan teknologi.
Bangun Ekosistem Kendaraan Listrik
Meski ingin menghadirkan merek lokal, AHY menegaskan Indonesia tetap terbuka terhadap kerja sama dengan perusahaan global.
Menurutnya, kolaborasi diperlukan untuk mempercepat transfer teknologi sekaligus memperkuat industri nasional.
Pemerintah juga terus membangun ekosistem kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan, mulai dari insentif pajak, pengembangan industri baterai, hingga penambahan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai wilayah.
Dengan ekosistem yang semakin lengkap, pemerintah berharap industri kendaraan listrik Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga mampu melahirkan produk yang bisa bersaing di pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara