Produsen moge, Harley Davidson. (REUTERS/Henry Nicholls)
INDOZONE.ID - Di Indonesia masih berkembang anggapan bahwa semua motor gede (moge), terutama Harley-Davidson, wajib menggunakan bahan bakar beroktan tinggi seperti Pertamax Turbo atau bahkan bensin balap. Padahal, bahan bakar beroktan 90 atau setara dengan Pertalite juga masih memungkinkan.
Kebutuhan bahan bakar sebuah mesin tidak ditentukan oleh harga kendaraan atau kapasitas mesinnya, melainkan oleh karakteristik teknis yang dirancang oleh pabrikan. Salah satu faktor terpenting adalah rasio kompresi mesin.
Itulah sebabnya beberapa model Harley-Davidson generasi lama yang masih menggunakan sistem karburator dan memiliki rasio kompresi relatif rendah tetap dapat beroperasi dengan baik menggunakan bahan bakar beroktan 90 atau setara dengan Pertalite di Indonesia.
Fenomena ini sering kali menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat karena dianggap bertentangan dengan citra Harley-Davidson sebagai sepeda motor premium. Namun jika ditinjau dari sisi rekayasa mesin, kondisi tersebut justru sangat logis.
Baca juga: Harley-Davidson Kembali ke IIMS 2026, Bawa CVO Street Glide Blue Streak
Mengutip dari ournal.unesa.ac.id, angka oktan atau Research Octane Number (RON) merupakan ukuran kemampuan bahan bakar dalam menahan terjadinya detonasi atau knocking, yaitu pembakaran yang terjadi sebelum percikan api dari busi.
Semakin tinggi tekanan dan temperatur di dalam ruang bakar, semakin besar pula kecenderungan mesin mengalami knocking sehingga diperlukan bahan bakar dengan angka oktan yang lebih tinggi.
Pertalite isi air di salah satu SPBU Pertamina Klaten. (Dok. Pertamina/X@ridwanhr)
Sebaliknya, mesin yang memiliki rasio kompresi rendah menghasilkan tekanan pembakaran yang juga lebih rendah. Dalam kondisi tersebut, bahan bakar dengan angka oktan sedang sudah mampu menghasilkan proses pembakaran yang stabil tanpa memicu detonasi.
Oleh karena itu, penggunaan bahan bakar beroktan tinggi pada mesin dengan kompresi rendah tidak selalu memberikan keuntungan tambahan dalam hal performa maupun efisiensi. Prinsip ini telah dijelaskan dalam berbagai penelitian mengenai hubungan antara rasio kompresi mesin dan kebutuhan angka oktan.
Banyak Harley-Davidson produksi generasi Evolution maupun Twin Cam awal masih mengandalkan sistem karburator sebagai pemasok bahan bakar. Selain itu, sebagian besar mesin tersebut menggunakan sistem pendingin udara (air-cooled) dengan karakter putaran mesin yang rendah dan torsi besar.
Baca juga: Harley Davidson Pan America 1250 ST Mengaspal, Harga Rp721 Juta di Indonesia
Yang paling penting, mesin-mesin tersebut umumnya memiliki rasio kompresi berkisar antara 8,5:1 hingga sekitar 9,5:1, tergantung tipe dan tahun produksinya.
Jika dibandingkan dengan sepeda motor sport modern yang memiliki rasio kompresi di atas 11:1 bahkan mencapai 13:1, angka tersebut tergolong cukup rendah. Karena tekanan pembakaran yang dihasilkan tidak terlalu tinggi, kebutuhan akan bahan bakar beroktan tinggi pun menjadi lebih rendah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Journal.unesa.ac.id