Rabu, 13 MEI 2026 • 21:19 WIB

Harga BBM Naik, Hyundai Nilai Insentif Kendaraan Listrik Jadi Solusi Alternatif

Author

:Logo pabrikan Hyundai. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

INDOZONE.ID - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai menjadi salah satu alasan utama pemerintah mendorong percepatan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia melalui berbagai insentif. Hyundai Motors Indonesia menilai langkah tersebut dapat menjadi solusi alternatif di tengah biaya operasional kendaraan konvensional yang terus meningkat.

Chief Operating Officer Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto mengatakan kenaikan harga BBM, baik untuk kendaraan berbahan bakar bensin maupun diesel, membuat kendaraan listrik semakin relevan sebagai pilihan mobilitas masyarakat.

“Jadi yang pertama kita lihat memang harga bensin baik itu untuk mobil-mobil bensin ataupun mobil-mobil diesel itu harganya naiknya cukup signifikan. Jadi diperlukan istilahnya pengganti untuk fuel price. Nah makanya pemerintah memberikan yang namanya insentif tersebut,” kata Fransiscus seperti yang dikutip dari ANTARA.

Menurut dia, rencana pemerintah memberikan insentif lebih besar bagi kendaraan listrik berbasis baterai nikel akan berdampak positif terhadap perkembangan industri otomotif nasional. Kebijakan tersebut dinilai bukan hanya menguntungkan Hyundai, tetapi juga seluruh produsen kendaraan listrik yang beroperasi di Indonesia.

Baca juga: BYD Nilai Insentif Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Bisa Percepat Transisi Energi di Indonesia

“Dan kita melihat ini merupakan suatu peluang untuk kita bisa lebih banyak lagi melakukan penjualan. Bukan hanya untuk Hyundai tapi untuk seluruh pabrikan, baik itu Japanese maker ataupun Chinese maker,” ujarnya.

Fransiscus mengatakan penggunaan baterai nikel kerap dikaitkan dengan Hyundai karena perusahaan telah membangun fasilitas produksi baterai di Karawang. Ia menyebut Hyundai sejak awal memang ingin memanfaatkan sumber daya nikel lokal sebagai bagian dari pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.

“Karena banyak orang yang mengaitkan antara baterai nikel itu dengan Hyundai. Ya memang kita berkeinginan pada saat kita membangun pabrik baterai yang ada di Karawang, kita ingin memaksimalkan penggunaan nikel,” katanya.

Ia menilai pemanfaatan nikel domestik dapat memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia.

“Nikel itu kan salah satu sumber daya alam kita, nomor satu di dunia. Jadi kalau kita bisa utilisasi itu makanya akan berkontribusi terhadap Indonesia,” ujar Fransiscus.

Baca juga: Hyundai Ioniq V Muncul di Dokumen Regulasi China, Usung Teknologi AI dan Fast Charging 800V

Meski demikian, ia menegaskan kendaraan listrik berbasis baterai nikel tidak hanya diproduksi Hyundai. Sejumlah produsen lain juga telah menggunakan baterai serupa dan memproduksi kendaraan listrik di Indonesia.

Selain itu, Fransiscus menyebut kendaraan listrik dengan baterai non-nikel tetap berpeluang mendapatkan insentif dari pemerintah sesuai kebijakan yang akan diterapkan nantinya.

Ia menambahkan Hyundai akan terus mengikuti arah kebijakan pemerintah sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen di pasar otomotif nasional.

“Hyundai selalu menyambut kebijakan pemerintah. Jadi kita harus sesuai dengan permintaan customer. Kalau masyarakat Indonesia lagi maunya EV ya EV, kalau lagi mau hybrid ya hybrid,” katanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU