Toyota New Veloz Hybrid EV di GJAW 2025. (Indozone/Rachmat Fahzry)
INDOZONE.ID - Membeli mobil hybrid bekas di tahun 2026, menjadi pilihan yang semakin populer. Sebab, kendaraan ini menawarkan efisiensi bahan bakar yang tinggi, namun dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan unit baru.
Mobil jenis itu sangat cocok bagi pengendara yang ingin menghemat biaya operasional harian, namun belum siap beralih sepenuhnya ke mobil listrik murni (Full EV).
Namun, karena memiliki dua sistem penggerak (mesin bensin dan motor listrik), pengecekan mobil hybrid bekas memerlukan ketelitian ekstra dibandingkan mobil konvensional.
Berikut adalah, 5 tips beli mobil hybrid bekas yang wajib dipahami agar kamu mendapatkan unit berkualitas dan bebas masalah.
Tampilan baterai mobil listrik terbaru milik BYD. (slashgear.com)
Baterai adalah komponen termahal pada mobil hybrid. Jangan hanya percaya pada klaim penjual bahwa kondisi baterai "masih bagus".
Mintalah hasil pemeriksaan kesehatan baterai menggunakan alat diagnostik (OBD Scanner) di bengkel resmi atau spesialis hybrid.
Tanda baterai mulai lemah bisa dengan mudah dideteksi, saat mesin bensin bekerja lebih sering dari biasanya.
Lalu, pengisian daya terlihat sangat cepat penuh namun cepat habis, serta akselerasi yang terasa kurang responsif atau berat.
Ilustrasi servis mobil listrik. (Dok. Geely Auto Indonesia.)
Banyak pabrikan mobil hybrid di Indonesia memberikan garansi baterai yang cukup panjang, biasanya hingga 8 tahun atau 160.000 km.
Jika kamu membeli mobil yang baru berusia 3–4 tahun, pastikan sisa garansi tersebut masih bisa diklaim oleh pemilik berikutnya.
Baca juga: 5 Alasan Mobil Sedan Bekas Masih Layak Dipertimbangkan, Pas buat Keluarga Minimalis!
Membeli mobil yang masih dalam masa garansi pabrik, akan memberikan ketenangan pikiran (peace of mind) jika suatu saat terjadi masalah pada sistem kelistrikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Auto 2000