INDOZONE.ID - Menjaga mesin mobil agar tetap dalam suhu kerja yang ideal adalah kunci panjang umur bagi kendaraan kamu.
Di balik kap mesin, terdapat cairan yang bekerja tanpa henti untuk menyerap panas, yakni cairan pendingin atau coolant.
Sayangnya, masih banyak pemilik mobil yang menyepelekan cairan ini dan hanya menggantinya dengan air keran biasa, yang justru berisiko merusak sistem pendingin secara perlahan.
Memahami fungsi coolant, risiko yang mengintai, hingga waktu perawatan yang tepat adalah ilmu dasar otomotif yang wajib dikuasai setiap pengemudi.
Mari kita bahas secara mendalam agar mesin mobil kamu tetap sehat dan terhindar dari kerusakan fatal.
Apa Fungsi Coolant di Mobil?
Banyak yang menganggap cairan ini hanya berfungsi sebagai pendingin biasa, padahal fungsi coolant jauh lebih kompleks daripada sekadar air mineral biasa.
Cairan coolant diformulasikan khusus dengan kandungan etilen glikol dan zat aditif antikarat yang memiliki peran vital berikut:
Pertama, coolant berfungsi untuk meningkatkan titik didih cairan. Air murni mendidih pada suhu 100 derajat celcius.
Sementara mesin mobil modern, sering kali bekerja pada suhu mendekati atau bahkan lebih dari titik tersebut.
Baca juga: 5 Fungsi Air Radiator Coolant pada Mobil yang Harus Kamu Ketahui!
Dengan coolant, titik didih bisa naik hingga 120 derajat Celcius atau lebih, sehingga cairan tidak mudah menguap saat mesin bekerja keras. Selain itu, coolant memiliki fungsi sebagai pelindung korosi.
Zat kimia di dalamnya mencegah timbulnya karat pada komponen logam seperti radiator dan water pump, yang sangat rentan berlubang jika hanya menggunakan air biasa.
Dampak Jika Coolant di Mesin Mobil Habis atau Kering
Mengabaikan kondisi cairan pendingin bisa berakibat buruk pada performa dan kesehatan mesin. Dampak jika habis atau berkurangnya volume coolant di dalam sistem akan memicu rantai kerusakan yang mahal untuk diperbaiki.
Dampak yang paling instan adalah terjadinya overheating atau panas berlebih. Tanpa cairan yang cukup untuk menyerap panas, suhu mesin akan melonjak drastis melewati batas aman.
Baca juga: Ini Tanda Kipas Radiator Mobil Lemah yang Harus Kamu Pahami, Wajib Dipahami Lebih Dulu!
Jika kamu biarkan dalam hitungan menit saja, panas ekstrem ini dapat menyebabkan kepala silinder (cylinder head) melengkung, piston macet, hingga mesin mati total.
Selain itu, jika coolant kering, pelumasan pada komponen pompa air akan hilang, menyebabkan kerusakan mekanis yang membuat sistem pendingin berhenti berfungsi sepenuhnya.
Biaya untuk memperbaiki kerusakan akibat overheat ini sering kali mencapai puluhan juta rupiah.
Waktu Penggantian Coolant Mobil
Agar fungsi perlindungannya tetap maksimal, cairan pendingin tidak bisa digunakan selamanya. Kualitas zat kimia di dalamnya akan menurun seiring bertambahnya usia dan pemakaian. Lalu, kapan waktu penggantian yang paling ideal?
Secara umum, produsen otomotif menyarankan penggantian cairan coolant dilakukan setiap 40.000 km hingga 60.000 km sekali, atau sekitar 2 tahun penggunaan.
Namun, pada beberapa jenis mobil modern yang menggunakan long-life coolant, intervalnya bisa lebih lama hingga 100.000 km.
Baca juga: 5 Penyebab Radiator Mobil Bocor yang Harus Kamu Waspadai: Bisa Bikin Mesin Overheat!
Sangat disarankan bagi kamu untuk rutin memeriksa kondisi fisik cairan melalui tabung cadangan (reservoir) setiap minggu.
Jika warna cairan sudah terlihat keruh, berubah menjadi kecokelatan (tanda karat), atau terlihat banyak endapan, itu adalah sinyal bahwa kamu harus segera melakukan pengurasan, dan penggantian tanpa menunggu angka kilometer tercapai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Auto 2000