INDOZONE.ID - Kenaikan harga Pertamax yang terjadi baru-baru ini diperkirakan mendorong sebagian pengguna beralih ke Pertalite.
Menanggapi kondisi tersebut, Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Agus Purwadi, MT, menjelaskan bahwa perpindahan dari BBM dengan RON lebih tinggi ke RON yang lebih rendah dapat memengaruhi kinerja kendaraan.
Ia menilai penggunaan BBM dengan kualitas yang lebih rendah berpotensi menyebabkan performa mesin menurun dibandingkan saat menggunakan bahan bakar beroktan lebih tinggi.
"Tentu saja yang biasa menggunakan RON lebih tinggi, itu artinya BBM-nya lebih berkualitas. Sehingga kalau dia turun menggunakan BBM dengan kualitas yang lebih rendah, maka paling tidak performa mesin akan turun dari sebelumnya," ujarnya saat dihubungi Indozone pada Kamis (11/6/2026).
Baca juga: Pakar ITB Minta Produsen Mobil Listrik Sediakan Tombol 'Emergency' Khusus
Penggunaan BBM dengan RON yang lebih rendah juga tidak hanya berdampak pada performa mesin, tetapi turut berpengaruh pada efisiensi bahan bakar dan tingkat emisi kendaraan.
Agus Purwadi menekankan bahwa penurunan kualitas bahan bakar dapat membuat proses pembakaran menjadi kurang sempurna, sehingga efisiensi mesin menurun dan emisi gas buang meningkat.
Tak hanya itu, kendaraan yang sebelumnya terbiasa menggunakan BBM beroktan lebih tinggi juga berpotensi mengalami konsumsi bahan bakar yang lebih boros ketika beralih ke BBM dengan RON lebih rendah.
"Artinya, dampaknya memang akan menurunkan efisiensi kemudian menaikkan emisi karena pembakaran menjadi tidak sempurna. Dan juga konsumsi tentu saja karena biasa menggunakan yang lebih high quality itu konsumsi bahan bakarnya akan lebih boros.
Dalam jangka panjang, penggunaan BBM dengan RON yang lebih rendah pada kendaraan yang dirancang untuk RON lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya perawatan.
"Potensi biaya perawatan kendaraan akan meningkat. Kenapa? Karena memang performa yang lebih buruk itu artinya memang efisiensi menjadi lebih rendah," jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menambahkan bahwa penurunan kualitas pembakaran dapat membuat efisiensi mesin berkurang sekaligus memicu penumpukan kerak karbon di ruang bakar akibat proses pembakaran yang tidak sempurna.
Pada kendaraan bermesin berkompresi tinggi, kondisi tersebut juga dapat menyebabkan penurunan kompresi.
"Kemudian juga di dalam ruang bakar itu terjadi penumpukan kerak karbon akibat pembakaran yang kurang sempurna, dan juga kalau dia menggunakan high compression mesin tentu saja akan terjadi penurunan kompresi," katanya menambahkan.
Selain itu, komponen seperti turbo berpotensi membutuhkan perawatan lebih sering karena harus bekerja lebih berat untuk mempertahankan performa mesin.
"Akibatnya mungkin sisi di komponen turbo itu juga akan memerlukan perawatan yang lebih sering karena bekerja lebih berat," pungkasnya.
Baca juga: Pakar Otomotif ITB Soroti Pentingnya SOP Darurat pada Mobil Listrik
Secara keseluruhan, beralih dari BBM dengan RON lebih tinggi ke RON yang lebih rendah memang dapat dilakukan, namun konsekuensinya perlu dipertimbangkan dengan matang.
Tak hanya berpotensi menurunkan performa dan efisiensi bahan bakar serta meningkatkan emisi, penggunaan dalam jangka panjang juga dapat memicu penumpukan kerak karbon dan memperbesar kebutuhan perawatan mesin.
Karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya tetap menyesuaikan jenis bahan bakar dengan spesifikasi yang direkomendasikan pabrikan agar performa kendaraan tetap optimal dan usia pakai mesin lebih terjaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara