INDOZONE.ID - Setiap kali ban motor atau mobil botak lebih cepat dari perkiraan, kebanyakan orang langsung menyalahkan kualitas ban atau merek yang dipakai.
Padahal, dalam banyak kasus, penyebab sebenarnya bukan ban itu sendiri, melainkan kebiasaan berkendara yang selama ini dianggap wajar.
Alih-alih dianggap kerusakan, ban yang aus sebetulnya seperti buku catatan yang merekam kebiasaan mengemudi pemiliknya.
Baca juga: Cara Benar Menjaga Tekanan Ban agar Aman saat Berkendara di Musim Hujan
Pola keausan yang tidak merata bahkan bisa jadi petunjuk diagnostik, jika bagian tengah ban lebih cepat botak dibanding sisi kanan-kiri, itu tanda tekanan angin terlalu tinggi.
Sebaliknya, jika kedua sisi luar ban lebih cepat aus dibanding bagian tengah, itu pertanda tekanan angin kurang. Ban yang botak sebelah biasanya menandakan masalah pada spooring atau balancing yang tidak disadari pengendara selama berbulan-bulan.
Kebiasaan Sepele yang Diam-Diam Jadi Biang Kerok
1. Rem Mendadak Jadi "Gaya Nyetir"
Sebagian orang punya kebiasaan mengerem mendadak, entah karena terburu-buru atau sekadar gaya berkendara agresif.
Setiap pengereman keras menciptakan gesekan ekstrem antara ban dan aspal dalam waktu sangat singkat, dan gesekan itulah yang mengikis permukaan ban jauh lebih cepat dibanding pengereman yang halus dan bertahap.
2. Selalu Belok di Kecepatan yang Sama Seperti Jalan Lurus
Banyak pengendara tidak menyadari bahwa menikung dengan kecepatan tinggi membuat ban bagian luar menanggung beban jauh lebih besar dibanding kondisi normal.
Kebiasaan ini paling terasa dampaknya di jalur yang sama berulang kali, seperti rute harian ke kantor yang penuh tikungan tajam.
3. Muatan Berlebih Dianggap Hal Biasa
Kebiasaan membawa muatan lebih dari kapasitas, apalagi dilakukan berulang, memberi beban ekstra pada ban dalam jangka panjang. Efeknya memang tidak langsung terlihat, tapi terakumulasi dan mempercepat proses keausan dari waktu ke waktu.
Baca juga: Cara Mengatasi Ban Mobil Gundul Sebelah agar Aman Berkendara
Cobalah sesekali memperhatikan cara mengemudi harian secara sadar, apakah sering direm mendadak, sering melibas lubang jalan tanpa mengurangi kecepatan, atau terbiasa menikung dengan laju yang sama seperti jalan lurus.
Pola-pola ini biasanya sudah menjadi kebiasaan otomatis yang tidak disadari, padahal dampaknya jangka panjang terhadap usia ban jauh lebih besar dibanding faktor merek atau harga ban itu sendiri.
Selain itu, periksa telapak ban secara visual setiap beberapa minggu, bukan hanya saat servis rutin. Perbedaan pola keausan antara satu ban dengan ban lainnya bisa jadi indikator dini adanya masalah pada sistem kaki-kaki kendaraan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Auto 2000, Honda Global