Pabrik GAC AION di Purwakarta. (Dok. GAC AION)
INDOZONE.ID - Enam produsen mobil listrik dunia, termasuk BYD dan Vinfast, siap menanam investasi Rp15 triliun di Indonesia. Kapasitas produksi ditargetkan tembus 305 ribu unit per tahun, seiring berakhirnya insentif impor mobil listrik utuh (CBU) pada akhir 2025.
Mulai 1 Januari 2026, pabrikan yang menikmati insentif wajib produksi di dalam negeri. Kuota produksi harus sesuai izin impor yang diterima, plus mengikuti aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).
“Dalam perjalanannya, perusahaan juga harus memperhatikan nilai TKDN. Dari 40 persen harus secara bertahap naik menjadi 60 persen,” jelas Direktur IMATAP Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono.
Aturan TKDN mobil listrik ini diatur lewat Perpres 79/2023. Targetnya: 40% pada 2026, 60% di 2027–2029 dan 80% mulai 2030. Skemanya bertahap, dari CKD, lalu IKD, hingga manufaktur part by part.
Baca juga: Inovasi Otomotif Indonesia: Menyongsong Era Hybrid dan Listrik
Hingga Maret 2025, ada enam pemain global yang memanfaatkan insentif impor BEV CBU:
BYD Auto Indonesia (China)
Vinfast Automobile Indonesia (Vietnam)
Geely Motor Indonesia
Era Industri Otomotif (Xpeng)
National Assemblers (Aion, Citroen, Maxus, VW)
Inchcape Indomobil Energi Baru (GWM Ora)
BYS dan VinFast membangun pabrik baru, National Assemblers & Inchcape memperluas kapasitas, dan Geely & Era Industri Otomotif menggandeng assembler lokal.
Menurut Kemenperin, populasi kendaraan listrik di Indonesia tembus 207 ribu unit pada 2024. Angkanya naik 78% dibanding tahun sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber