Selasa, 02 SEPTEMBER 2025 • 15:57 WIB

Indonesia Kebanjiran Mobil Listrik Impor, Industri Lokal Mulai Keteteran

Author

Pabrik GAC AION di Purwakarta. (Dok. GAC AION)

INDOZONE.ID - Enam produsen mobil listrik dunia, termasuk BYD dan Vinfast, siap menanam investasi Rp15 triliun di Indonesia. Kapasitas produksi ditargetkan tembus 305 ribu unit per tahun, seiring berakhirnya insentif impor mobil listrik utuh (CBU) pada akhir 2025.

Mulai 1 Januari 2026, pabrikan yang menikmati insentif wajib produksi di dalam negeri. Kuota produksi harus sesuai izin impor yang diterima, plus mengikuti aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

“Dalam perjalanannya, perusahaan juga harus memperhatikan nilai TKDN. Dari 40 persen harus secara bertahap naik menjadi 60 persen,” jelas Direktur IMATAP Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono.

Aturan TKDN mobil listrik ini diatur lewat Perpres 79/2023. Targetnya: 40% pada 2026, 60% di 2027–2029 dan 80% mulai 2030. Skemanya bertahap, dari CKD, lalu IKD, hingga manufaktur part by part.

Baca juga: Inovasi Otomotif Indonesia: Menyongsong Era Hybrid dan Listrik

Enam Pemain Besar EV di Indonesia

Hingga Maret 2025, ada enam pemain global yang memanfaatkan insentif impor BEV CBU:

BYD Auto Indonesia (China)

Vinfast Automobile Indonesia (Vietnam)

Geely Motor Indonesia

Era Industri Otomotif (Xpeng)

National Assemblers (Aion, Citroen, Maxus, VW)

Inchcape Indomobil Energi Baru (GWM Ora)

BYS dan VinFast membangun pabrik baru, National Assemblers & Inchcape memperluas kapasitas, dan Geely & Era Industri Otomotif menggandeng assembler lokal.

Populasi EV Makin Melejit

Menurut Kemenperin, populasi kendaraan listrik di Indonesia tembus 207 ribu unit pada 2024. Angkanya naik 78% dibanding tahun sebelumnya.

Pangsa pasar BEV juga meroket, dari 0,08% di 2021 jadi 9,7% pada pertengahan 2025.

“Pergeseran ini menunjukkan kebijakan dan insentif mulai membuahkan hasil. Transisi menuju transportasi rendah emisi berjalan ke arah yang tepat,” kata Tunggul.

Data Gaikindo mencatat, penjualan BEV hingga Juli 2025 sudah 42.178 unit, hampir menyamai total penjualan sepanjang 2024 (43.188 unit). BYD memimpin dengan 16.427 unit, diikuti Denza (6.256 unit) dan Wuling (6.210 unit).

Industri Lokal Kena Tekanan

Namun, booming EV impor juga bikin industri otomotif lokal keteteran. Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyebut utilisasi industri turun dari 73% jadi 55% pada 2025.

“BEV impor menekan produksi mobil dengan TKDN tinggi. Banyak perusahaan komponen juga mengeluh, sebagian bahkan melakukan PHK,” tegas Kukuh.

Gaikindo berharap insentif dibuat lebih adil, termasuk untuk mobil entry level harga Rp200–400 juta dengan TKDN tinggi.

Pasar atau Pusat Produksi?

Peneliti LPEM UI, Riyanto, menilai pangsa pasar BEV impor meroket hingga 64% pada Mei 2025.

Menurutnya, uji pasar memang sukses, tapi multiplier effect baru terasa di perdagangan, bukan manufaktur.

“Seharusnya insentif BEV CBU tidak diperpanjang, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat produksi BEV,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU