Senin, 20 APRIL 2026 • 09:48 WIB

Apakah Mobil Listrik Bisa Menyelamatkan Bumi? Begini Penjelasannya

Author

Ilustrasi mobil listrik. Mobil listrik lebih awet dibanding mobil bensin? (Freepik.)

INDOZONE.ID - Studi terbaru dari University of Technology Sydney oleh peneliti Robin Smit memperkuat argumen bahwa mobil listrik merupakan solusi berkelanjutan bagi bumi. 

Melalui perbandingan emisi siklus hidup (life cycle emissions), riset ini mengungkapkan bahwa mobil konvensional dan listrik awalnya memiliki jejak karbon yang hampir setara, masing-masing di angka 8,4 dan 7,9 ton CO2.

Titik diferensiasi muncul pada proses manufaktur komponen baterai, di mana kendaraan listrik mencatatkan peningkatan akumulasi emisi karbon dibandingkan kendaraan tradisional.

Baca juga: Nyicil Mobil Listrik Worth It Gak? Ini 5 Hal yang Harus Kamu Pikirkan Matang-matang!

Namun, para ahli menyebutkan bahwa kandungan emisi yang terdapat dalam mobil listrik akan menurun sejalan dengan banyaknya komponen baterai yang dibuat menggunakan energi terbarukan. 

"Dibutuhkan energi untuk memproduksi baterai di dekarbonisasi, sehingga emisi pada baterai bisa lebih rendah," ujar peneliti transportasi di Universitas Teknologi Sydney, Robin Smit, sebagaimana dikutip dari ABC.net pada Senin (20/04/2026)

Hingga tahap ini, kendaraan berbasis listrik memang mencatatkan akumulasi emisi karbon yang lebih tinggi pada fase produksi, khususnya yang bersumber dari manufaktur unit baterainya.

Perbandingan Tahap Uji coba Dijalan 

Mengacu pada data ABS mengenai rata-rata jarak tempuh kendaraan Australia sebesar 189.000 km selama masa pakainya, uji coba efisiensi emisi pun dilakukan. 

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan: mobil bensin tercatat menyumbang emisi karbon hingga 46 ton CO2 , termasuk jejak karbon dari aktivitas penyulingan BBM. 

Di sisi lain, mobil listrik tampil jauh lebih bersih dengan total emisi hanya 10 ton CO2.

Data ini mempertegas bahwa meski proses produksinya intensif, mobil listrik jauh lebih ramah lingkungan saat digunakan dalam jangka panjang.

"Selain itu, ada juga biaya emisi gas rumah kaca selama proses pengadaan hingga pengisian bahan bakar mobil agar dapat beroperasi,” tutur Profesor Smit.

Menurut Smit, rendahnya efisiensi konversi BBM, yang hanya mencapai 20–30%, menjadikan kendaraan konvensional sebagai sumber utama pencemaran dibandingkan mobil listrik. 

Riset ini menyimpulkan bahwa beban emisi mobil listrik jauh lebih ringan sepanjang siklus pakainya. 

Terlebih lagi, dengan target integrasi energi terbarukan yang lebih masif pada 2030, mobil listrik diproyeksikan akan menghasilkan jejak karbon yang bahkan lebih rendah lagi, menjadikannya solusi mobilitas masa depan yang lebih hijau.

Baca juga: Merek Jepang Beradaptasi dengan Transisi Adopsi Mobil Listrik dengan Merubah Logo

Apakah Mobil Listrik Bisa Menyelamatkan Bumi? 

Sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai kontribusi mobil listrik terhadap kelestarian lingkungan, bukti menunjukkan hasil yang positif. 

Secara komprehensif, kendaraan listrik mengemisikan jejak karbon dan gas rumah kaca yang jauh lebih rendah dibandingkan model konvensional. 

Kendati jaringan pengisian daya saat ini masih melibatkan energi fosil, akumulasi emisi total mobil listrik tetap berada di level minimum. 

Angka ini diproyeksikan akan terus menurun secara progresif seiring dengan transisi menuju bauran energi nasional yang lebih ramah lingkungan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: University Of Technology Sydney

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU