Ilustrasi mesin mobil. (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernahkah kamu merasakan sensasi tidak nyaman berupa getaran yang merambat hingga ke setir atau jok saat mobil sedang dalam posisi diam atau idle?
Kondisi ini sering kali terjadi saat kamu sedang berhenti di lampu merah dengan posisi transmisi di "D" (untuk matik) atau saat mesin baru saja dipanaskan.
Jangan anggap remeh masalah ini. Getaran yang tidak wajar pada saat mesin stasioner bisa menjadi sinyal bahwa ada komponen yang mulai aus.
Jika dibiarkan, masalah kecil ini bisa merembet dan merusak komponen lain yang biayanya jauh lebih mahal. Yuk, pahami berbagai penyebab umum mobil bergetar saat berhenti beserta solusi awalnya!
Ilustrasi mesin mobil. (Dok. Daihatsu)
Penyebab yang paling sering ditemui ketika mobil bergetar saat berhenti adalah rusaknya engine mount atau dudukan mesin.
Komponen yang terbuat dari karet dan besi ini berfungsi sebagai penyangga mesin sekaligus peredam getaran agar tidak merambat ke sasis dan kabin.
Baca juga: 5 Keuntungan Mobil Diesel Terbaru pakai Solar Berkualitas yang Harus Kamu Tahu: Mesin Lebih Halus!
Seiring bertambahnya usia mobil, karet pada engine mount bisa mengeras, pecah, atau bahkan sobek.
Akibatnya, getaran alami dari pembakaran mesin akan langsung terasa ke seluruh kabin, terutama saat mesin bekerja pada putaran rendah atau berhenti.
Lakukan pemeriksaan fisik pada area dudukan mesin. Jika terlihat ada retakan pada karet atau posisi mesin tampak miring, segera ganti dengan unit yang baru agar getaran tidak merusak sambungan transmisi.
Ilustrasi busi. (driving.co.uk)
Mesin yang bergetar atau terasa "pincang" saat berhenti sering kali disebabkan oleh proses pembakaran yang tidak sempurna pada salah satu silinder.
Jika busi sudah terlalu kotor atau koil mulai melemah, percikan api yang dihasilkan tidak akan stabil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Daihatsu