INDOZONE.ID - Sekitar tujuh dekade lalu, hubungan historis Mercedes-Benz dengan Nazi Jerman sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan sebagian masyarakat Amerika Serikat.
Kini, produsen mobil mewah asal Jerman tersebut kembali menjadi sorotan, tetapi bukan karena sejarah masa lalunya.
Kali ini, perhatian tertuju pada hubungan kepemilikan saham Mercedes dengan sejumlah investor asal China.
Pasalnya, sebuah rancangan undang-undang baru di Senat AS berpotensi membatasi perusahaan otomotif yang memiliki keterkaitan kepemilikan dengan China untuk beroperasi di pasar Amerika.
Intinya aturan tersebut membatasi produsen mobil dengan kepemilikan saham China di atas ambang tertentu.
Dalam pembahasan saat ini, batas kepemilikan yang dipertimbangkan berada di angka 15 persen.
Sementara itu, Mercedes-Benz diketahui memiliki dua investor besar asal China dengan total kepemilikan saham hampir mencapai 20 persen.
Investor tersebut adalah BAIC, perusahaan otomotif milik negara China, serta Li Shufu, pendiri Geely.
Jika kepemilikan keduanya digabungkan, angkanya melampaui batas yang sedang dibahas oleh para anggota parlemen AS.
Kondisi inilah yang kemudian memunculkan kemungkinan Mercedes dilarang beroperasi di pasar Amerika.
Namun, sejumlah anggota parlemen menegaskan bahwa pelarangan total terhadap Mercedes-Benz bukanlah tujuan utama dari rancangan aturan tersebut
Baca juga: Mercedes-Maybach GLS Terbaru Kini Punya Otak AI
Selain itu, mereka juga menyebut Mercedes masih memiliki waktu hingga 2030 untuk menyelesaikan persoalan struktur kepemilikan sahamnya.
Selain melakukan penyesuaian, perusahaan tersebut juga berpeluang mengajukan pengecualian agar tetap dapat beroperasi di pasar AS.
Persoalan yang menimpa Mercedes menunjukkan semakin seriusnya upaya Amerika Serikat dalam mengurangi ketergantungan industri otomotifnya terhadap China.
Sebelumnya, pemerintah AS juga telah menerapkan pembatasan terhadap penggunaan perangkat lunak dan perangkat keras asal China pada kendaraan terhubung atau connected car.
Aturan tersebut melarang penggunaan perangkat lunak konektivitas asal China pada kendaraan model tahun 2027.
Sementara itu, penggunaan perangkat keras dari China akan mulai dibatasi pada model tahun 2030.
Kebijakan ini diterapkan karena pemerintah AS menilai teknologi tersebut dapat menimbulkan risiko keamanan nasional, terutama berkaitan dengan data kendaraan dan sistem komunikasi.
Nah karena kebijakan itu dampaknya mulai terasa di industri otomotif.
Baca juga: Van Listrik Premium Mercedes-Benz VLE Resmi Diproduksi di Spanyol
Polestar contohnya, yang sebagian besar sahamnya dimiliki Geely, dilaporkan harus meninggalkan pasar AS pada tahun ini karena terdampak aturan tersebut.
Kini, produsen mobil dan pemasok komponen berlomba-lomba menyesuaikan rantai pasokan mereka.
Sejumlah perusahaan mulai mencari pengganti komponen konektivitas buatan China, melakukan audit pemasok, hingga mengajukan permohonan pengecualian.
Namun, para pelaku industri memperkirakan peralihan dari perangkat keras asal China dapat meningkatkan biaya produksi hingga 15 persen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara