Mengenal Solar B50: Spesifikasi, Angka Setana, hingga Dampaknya pada Mesin Diesel Modern
INdozone.ID - Pemerintah Indonesia bersiap menerapkan bio diesel B50, yaitu bahan bakar yang terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar fosil. Kebijakan ini menjadi langkah lanjutan setelah implementasi B35 dan B40, sekaligus upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.
Namun, apa sebenarnya spesifikasi solar B50? Apakah bahan bakar ini aman untuk kendaraan diesel modern? Berikut penjelasannya seperti yang dikutip dari situs mp.iribb.org dan Reuters.
Apa Itu B50?
Huruf "B" pada B50 merujuk pada biodiesel, sedangkan angka 50 menunjukkan persentase campurannya. Artinya, setiap liter B50 terdiri atas sekitar 50 persen biodiesel dan 50 persen solar konvensional berbasis minyak bumi. Di Indonesia, biodiesel tersebut umumnya berasal dari Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang diproduksi dari minyak kelapa sawit.
Penggunaan biodiesel bertujuan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan, mengurangi emisi karbon, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca juga: Mengenal Bahan Bakar Diesel B50 Terbaru yang Bakal Segera Hadir di Indonesia, Cek di Sini!
Spesifikasi Utama Solar B50
Meski spesifikasi resmi B50 nasional masih terus disempurnakan melalui berbagai pengujian, karakteristik teknisnya dapat diperkirakan berdasarkan hasil penelitian campuran biodiesel 50 persen dan solar 50 persen.
1. Angka Setana (Cetane Number)
Angka setana merupakan indikator kualitas pembakaran bahan bakar diesel. Semakin tinggi nilainya, semakin mudah bahan bakar menyala saat dikompresi di dalam ruang bakar.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Institution of Mechanical Engineers menjelaskan bahwa biodiesel umumnya memiliki angka setana lebih tinggi dibanding solar konvensional karena dipengaruhi oleh komposisi asam lemaknya. Angka setana yang lebih tinggi berkontribusi pada pembakaran yang lebih halus dan emisi yang lebih rendah.
Karena mengandung 50 persen biodiesel, B50 diperkirakan memiliki angka setana lebih baik dibanding solar biasa, sehingga proses pembakaran pada mesin diesel menjadi lebih efisien.
2. Kekentalan (Viscosity)
Kekentalan menjadi salah satu parameter penting karena memengaruhi kemampuan bahan bakar mengalir melalui sistem injeksi.
Baca juga: Apa Bahan Bakar Kereta Api? Ini Jenis-Jenisnya dari Batu Bara hingga Listrik
Penelitian dari jurnal Eksergi menunjukkan campuran B50 memiliki viskositas kinematik sekitar 6,5 mm²/s sebelum ditambahkan aditif tertentu. Nilai ini masih berada dalam rentang yang dapat digunakan pada mesin diesel, meskipun lebih kental dibanding solar murni.
Semakin tinggi kandungan biodiesel, biasanya kekentalan bahan bakar juga meningkat. Oleh karena itu, sistem injeksi modern perlu dirancang agar mampu mengakomodasi karakteristik tersebut.
3. Densitas atau Massa Jenis
Hasil penelitian menunjukkan B50 memiliki densitas sekitar 841 kg/m³ pada suhu 15 derajat Celsius. Densitas yang lebih tinggi dibanding solar fosil dapat memengaruhi jumlah energi yang masuk ke ruang bakar dalam setiap siklus pembakaran.
4. Titik Nyala (Flash Point)
Flash point menunjukkan suhu minimum saat bahan bakar mulai menghasilkan uap yang dapat terbakar.
Campuran B50 memiliki titik nyala sekitar 183 derajat Celsius, jauh lebih tinggi dibanding solar biasa. Hal ini membuat biodiesel relatif lebih aman dalam penyimpanan dan distribusi karena tidak mudah menguap.
Dampak B50 terhadap Performa Mesin Diesel
Pembakaran Lebih Bersih
Kandungan oksigen alami pada biodiesel membantu proses pembakaran menjadi lebih sempurna. Efeknya, emisi partikulat dan asap hitam dari mesin diesel dapat berkurang.
Torsi dan Tenaga Relatif Stabil
Hasil berbagai uji laboratorium menunjukkan performa mesin diesel yang menggunakan campuran biodiesel tinggi umumnya tetap stabil, terutama pada kendaraan modern yang sudah dirancang kompatibel dengan biodiesel.
Baca juga: 5 Rekomendasi Mobil Diesel Bekas yang Masih Aman Diisi Bio Solar, Harganya Murah!
Pelumasan Lebih Baik
Biodiesel memiliki sifat lubricity atau pelumasan alami yang lebih baik dibanding solar ultra-rendah sulfur. Ini dapat membantu mengurangi keausan komponen sistem bahan bakar seperti pompa injeksi dan injector.
Tantangan Penggunaan B50
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, B50 juga memiliki beberapa tantangan teknis.
Risiko Endapan pada Filter
Biodiesel memiliki sifat pembersih (solvent) yang dapat meluruhkan kotoran lama di tangki bahan bakar. Pada fase awal penggunaan, kotoran tersebut berpotensi menyumbat filter bahan bakar sehingga perlu penggantian lebih sering.
Stabilitas Penyimpanan
Penelitian mengenai stabilitas B50 menunjukkan kualitas biodiesel dapat berubah selama penyimpanan akibat oksidasi dan kandungan air. Karena itu, produsen sering menambahkan aditif untuk menjaga kestabilan bahan bakar.
Kendaraan Lama Memerlukan Perhatian Khusus
Menurut sejumlah pengamat otomotif, kendaraan diesel generasi terbaru umumnya lebih siap menerima campuran biodiesel tinggi. Sebaliknya, kendaraan yang lebih tua mungkin memerlukan pemeriksaan berkala terhadap seal karet, filter, dan sistem injeksi.
Baca juga: 5 Kelebihan Toyota Innova Reborn Q Diesel Bekas, Harganya Makin Ghoib di Pasaran!
Apakah B50 Aman untuk Mesin Modern?
Berdasarkan hasil pengujian pemerintah dan industri, B50 dirancang agar tetap kompatibel dengan mesin diesel modern yang beredar saat ini. Indonesia bahkan telah melakukan serangkaian uji laboratorium dan uji jalan sebelum implementasi skala nasional.
Namun, seperti halnya transisi dari B20 ke B35 dan B40, keberhasilan penggunaan B50 tetap bergantung pada kualitas bahan bakar, kondisi kendaraan, serta disiplin perawatan berkala.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal, Reuters