INDOZONE.ID - Honda lagi diterpa badai besar. Untuk pertama kalinya dalam hampir 70 tahun, raksasa otomotif asal Jepang ini mengalami kerugian.
Meski kondisinya lagi goyang, sang CEO, Toshihiro Mibe, ternyata masih dipercaya para pemegang saham buat mempertahankan kursinya di jajaran dewan direksi.
Kerugian besar ini kabarnya dipicu oleh biaya perombakan strategi kendaraan listrik (EV) mereka yang membengkak sampai lebih dari USD 9 miliar.
Honda makin terjepit akibat gempuran dari pabrikan mobil China yang makin agresif menguasai pasar global.
Minta Maaf di Rapat Tahunan
Saat membuka rapat umum pemegang saham pada Jumat lalu, Mibe nggak sungkan buat langsung menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka kepada para investor.
"Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pemegang saham atas kekhawatiran dan ketidaknyamanan akibat kerugian bersih yang kami catat pada laporan keuangan tahun fiskal lalu," ungkap Mibe, dikutip Reuters, Selasa (30/6/2026).
Baca juga: Kenapa Logo Honda Mobil dan Motor Berbeda? Ini Alasannya
Ajaibnya, meski rapor perusahaan sedang merah, mayoritas pemegang saham tetap merestui Mibe untuk lanjut memimpin.
Sepuluh kandidat direktur lainnya juga ikutan lolos berkat lampu hijau dari firma penasihat proksi terkemuka seperti Glass Lewis dan ISS.
Ambyar Gara-Gara Salah Prediksi Pasar EV
Mibe blak-blakan menjelaskan kalau pihaknya terpaksa melakukan pemangkasan nilai aset karena penjualan mobil listrik berbasis baterai di Amerika Serikat ternyata jauh di bawah ekspektasi awal.
Kalau Honda tetap keukeuh memaksakan target awal mereka, taruhannya bakal makin ngeri.
"Artinya, bisnis otomotif kita bisa terus merugi sampai lima, bahkan tujuh tahun ke depan," jelas Mibe.
Langkah Honda yang mulai mengerem investasi EV ini sebenarnya jadi cerminan tren global.
Dalam dua tahun belakangan, banyak pabrikan mobil dunia yang mulai balik kanan dan lebih realistis karena pasar mobil listrik ternyata tidak tumbuh secepat yang dikira.
Drama Desakan Mundur
Di balik layar, posisi Mibe sebenarnya sempat digoyang. Beberapa mantan petinggi Honda mengkritik keras arah kebijakan manajemen saat ini yang dinilai telat membaca pergerakan pasar di China, yang notabene adalah pasar otomotif paling gemuk di dunia saat ini.
Bahkan, mantan CEO Honda Nobuhiko Kawamoto dikabarkan sempat melabrak kantor pusat di Tokyo pada April lalu cuma buat meminta Mibe meletakkan jabatannya.
Di penghujung rapat investor pun, sempat ada pemegang saham yang nekat mengusulkan pemecatan Mibe, walau akhirnya dicoret karena tidak sesuai agenda resmi.
Gandeng Nissan dan Mitsubishi Buat Bertahan
Biar nggak makin tenggelam, Honda kini memilih buat melupakan rivalitas masa lalu.
Mereka terus mematangkan rencana kongsi bareng Nissan Motor dan Mitsubishi Motors untuk patungan mengembangkan teknologi kendaraan masa depan.
Mibe membocorkan kalau obrolan yang sudah dimulai sejak pertengahan 2024 ini sekarang sudah masuk ke tahap yang lebih serius.
Kolaborasi segitiga ini digadang-gadang jadi senjata pamungkas geng otomotif Jepang buat menahan gempuran dari para pesaing berat mereka di China dan Amerika Serikat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters