Senin, 29 JUNI 2026 • 11:20 WIB

3 Kebiasaan Sepele yang Bisa Mempercepat Kerusakan Transmisi Mobil Matic

Author

Ilustrasi transmisi mobil matic. (Dok. Freepik.)

INDOZONE.ID - Mobil bertransmisi matic banyak dipilih karena menawarkan kemudahan dan kenyamanan saat digunakan, terutama di tengah lalu lintas perkotaan. 

Meski begitu, masih banyak pengemudi yang tanpa sadar melakukan kebiasaan yang berisiko mempercepat kerusakan transmisi

Padahal, komponen ini memiliki sistem yang cukup rumit dan membutuhkan cara penggunaan yang tepat. 

Kesalahan sederhana, seperti mengoperasikan tuas transmisi secara tidak benar, dapat mempercepat keausan dan berujung pada biaya perbaikan yang tidak sedikit. 

Baca juga: Jangan Pindah ke Gigi Netral Buat Mobil Matic saat Kondisi Ini, 4 Kesalahan Fatal yang Merusak Transmisi

Karena itu, penting untuk mengetahui beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari saat mengemudikan mobil matik.

1. Sering Menahan Mobil di Tanjakan hanya dengan Mengandalkan Gas

Kebiasaan ini membuat torque converter bekerja lebih berat sehingga suhu transmisi meningkat. Jika berlangsung terus-menerus, panas berlebih dapat menurunkan kualitas oli transmisi dan mempercepat keausan komponen di dalamnya. 

Dalam kondisi yang lebih parah, kerusakan pada kopling internal bisa terjadi dan membutuhkan perbaikan besar. 

Selain itu, perubahan tekanan pada sistem juga dapat memengaruhi pembacaan sensor sehingga kinerja unit kontrol transmisi terganggu. 

Akibatnya, mobil bisa masuk ke limp mode, yang membuat performanya menurun, termasuk saat melewati tanjakan.

2. Bahaya Memasukkan Transmisi ke Posisi Netral saat Mobil Melaju

Memindahkan tuas ke posisi N saat mobil masih melaju dapat mengganggu proses pelumasan pada komponen transmisi. Jika dilakukan berulang, gesekan antarkomponen berpotensi meningkat dan mempercepat keausan. 

Kebiasaan ini sering dilakukan dengan anggapan dapat menghemat bahan bakar saat menuruni jalan. 

Padahal, pada mobil matik modern, sistem injeksi umumnya sudah mengurangi bahkan menghentikan suplai bahan bakar secara otomatis ketika pedal gas dilepas. 

Karena itu, risiko kerusakan transmisi jauh lebih besar dibanding manfaat penghematan bahan bakar yang diperoleh.

3. Mengabaikan Jadwal Penggantian Oli Transmisi secara Berkala

Oli transmisi yang jarang diganti dapat meninggalkan endapan yang menyumbat filter maupun katup pada sistem transmisi. 

Kondisi ini membuat tekanan hidrolis menjadi tidak stabil sehingga perpindahan gigi terasa kasar atau terlambat. 

Selain itu, serpihan logam akibat gesekan komponen juga dapat beredar di dalam sistem dan mempercepat keausan. 

Baca juga: Jangan Sampai Tertukar! Kenali Perbedaan Fungsi Oli Transmisi dan Oli Gardan

Umumnya, oli transmisi yang masih baik berwarna merah jernih, sedangkan oli yang sudah menghitam menjadi tanda bahwa kondisinya perlu segera diganti agar kerusakan yang lebih serius dapat dihindari.

Meski terlihat sepele, kebiasaan saat mengemudikan mobil matik dapat memengaruhi kondisi transmisi dalam jangka panjang. 

Karena itu, penting untuk menggunakan transmisi sesuai prosedur dan melakukan perawatan secara berkala. 

Langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga performa kendaraan sekaligus mengurangi risiko kerusakan yang memerlukan biaya perbaikan besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Suzuki Indonesia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU