Minggu, 07 JUNI 2026 • 14:00 WIB

Baterai Baru CATL Diklaim Nyaris Setara Bensin, Mobil Listrik Bisa Tempuh 1.600 Km

Author

Baterai baru CATL klaim mobil listrik mampu tempuh 1.600KM. (ArenaEV)

INDOZONE.ID - Kekhawatiran soal jarak tempuh mobil listrik masih menjadi salah satu alasan banyak orang di Indonesia belum beralih dari mobil berbahan bakar bensin. Namun, kondisi itu bisa berubah dalam beberapa tahun ke depan.

Produsen baterai terbesar di dunia asal China, CATL, mengumumkan fokus riset barunya pada teknologi baterai lithium-air. Teknologi ini disebut-sebut memiliki potensi kapasitas penyimpanan energi yang hampir setara dengan bensin.

Jika berhasil diproduksi massal, mobil listrik masa depan berpotensi menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer hanya dengan sekali pengisian daya.

Baterai "Bernapas" yang Sedang Dikembangkan

Pengumuman tersebut disampaikan Kepala Ilmuwan CATL, Wu Kai, dalam ajang Powering the Nation Forum 2026.

Berbeda dengan baterai lithium-ion yang saat ini digunakan sebagian besar mobil listrik, baterai lithium-air tidak lagi mengandalkan material logam berat dalam jumlah besar seperti nikel, kobalt, dan mangan.

Teknologi ini menggunakan anoda berbahan lithium metal dan memanfaatkan oksigen langsung dari udara sebagai bagian dari proses reaksi kimia di dalam baterai.

Karena mengambil oksigen dari lingkungan sekitar, baterai ini sering dijuluki sebagai "breathable battery" atau baterai yang dapat bernapas.

Konsep tersebut membuat bobot baterai menjadi lebih ringan sekaligus memungkinkan kapasitas penyimpanan energi jauh lebih besar dibanding baterai mobil listrik saat ini.

Baca juga: Uji Coba Fast Charging BYD Bikin Heboh, Suhu Baterai Naik Drastis

Kapasitasnya Hampir Setara Bensin

Alasan utama para produsen tertarik mengembangkan lithium-air terletak pada potensi kepadatan energinya.

Secara teori, baterai lithium-air mampu mencapai kepadatan energi hingga 12.000 Wh/kg. Sebagai perbandingan, bensin memiliki kepadatan energi sekitar 13.000 Wh/kg.

Sementara itu, baterai mobil listrik yang saat ini beredar di pasaran umumnya hanya berada di kisaran 250 hingga 270 Wh/kg.

Bahkan baterai solid-state yang digadang-gadang menjadi generasi berikutnya masih menargetkan angka sekitar 500 Wh/kg.

Menariknya, sejumlah prototipe lithium-air terbaru sudah mampu mencapai lebih dari 1.200 Wh/kg di laboratorium. Artinya, kapasitasnya sekitar empat kali lebih besar dibanding baterai mobil listrik yang banyak digunakan saat ini.

Bisa Jadi Solusi Jarak Tempuh Mobil Listrik

Di Indonesia, isu jarak tempuh masih menjadi pertimbangan utama calon pembeli kendaraan listrik.

Meski infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) terus bertambah, sebagian masyarakat masih khawatir kehabisan daya saat melakukan perjalanan jauh antarkota.

Jika baterai lithium-air berhasil masuk tahap produksi massal, kekhawatiran tersebut bisa berkurang drastis.

Mobil listrik tidak hanya bisa menempuh perjalanan lebih jauh, tetapi juga berpotensi menggunakan baterai yang lebih ringan sehingga efisiensi kendaraan ikut meningkat.

Sudah Diteliti Sejak Puluhan Tahun Lalu

Meski terdengar futuristis, konsep baterai lithium-air sebenarnya bukan teknologi baru.

Para ilmuwan sudah mulai meneliti teknologi ini sejak dekade 1970-an. Namun selama puluhan tahun, berbagai kendala teknis membuatnya sulit diterapkan pada kendaraan komersial.

Salah satu tantangan terbesar adalah sensitivitas komponen baterai terhadap kelembapan dan karbon dioksida di udara.

Selain itu, prototipe generasi awal memiliki umur pakai yang pendek dan performanya cepat menurun setelah digunakan berulang kali.

Perkembangannya Mulai Menjanjikan

Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan teknologi membuat pengembangan lithium-air mulai menunjukkan hasil positif.

Kolaborasi peneliti dari University of Illinois Chicago, Argonne National Laboratory, dan California State University Northridge berhasil mengembangkan prototipe yang mampu bertahan lebih dari 700 siklus pengisian daya dalam kondisi yang menyerupai udara alami.

Setahun kemudian, Argonne National Laboratory bersama Illinois Institute of Technology mengembangkan versi baru yang mencapai kepadatan energi 1.200 Wh/kg dan mampu bertahan hingga 1.000 kali pengisian daya.

Meski begitu, para peneliti memperkirakan teknologi ini masih membutuhkan waktu cukup panjang sebelum benar-benar digunakan pada mobil produksi massal. Banyak pihak memperkirakan penerapannya baru akan mulai terlihat setelah tahun 2030.

Baca juga: Wuling Belum Umumkan Harga Baterai Eksion, Ini Alasannya

China Semakin Agresif Kuasai Industri Baterai

Bagi CATL, pengembangan lithium-air merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.

Sebelumnya, CATL juga menjadi salah satu pelopor pengembangan baterai sodium-ion yang kini mulai digunakan pada sejumlah mobil listrik berharga lebih terjangkau.

Beberapa model kendaraan dari produsen China seperti GAC Aion dan Changan Automobile sudah mulai mengadopsi teknologi tersebut.

Saat ini CATL masih menjadi pemain terbesar di industri baterai kendaraan listrik global. Dominasi tersebut membuat perusahaan memiliki sumber daya yang besar untuk mendanai riset teknologi generasi berikutnya.

Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini patut diperhatikan. Jika teknologi lithium-air benar-benar berhasil dikomersialisasikan, bukan tidak mungkin mobil listrik masa depan mampu menawarkan jarak tempuh setara kendaraan bensin tanpa perlu sering mengisi ulang daya. Dengan kondisi geografis Indonesia yang luas dan kebutuhan mobilitas jarak jauh yang tinggi, teknologi seperti ini bisa menjadi salah satu kunci percepatan adopsi kendaraan listrik di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ArenaEV

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU