Baterai baru CATL klaim mobil listrik mampu tempuh 1.600KM. (ArenaEV)
INDOZONE.ID - Kekhawatiran soal jarak tempuh mobil listrik masih menjadi salah satu alasan banyak orang di Indonesia belum beralih dari mobil berbahan bakar bensin. Namun, kondisi itu bisa berubah dalam beberapa tahun ke depan.
Produsen baterai terbesar di dunia asal China, CATL, mengumumkan fokus riset barunya pada teknologi baterai lithium-air. Teknologi ini disebut-sebut memiliki potensi kapasitas penyimpanan energi yang hampir setara dengan bensin.
Jika berhasil diproduksi massal, mobil listrik masa depan berpotensi menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer hanya dengan sekali pengisian daya.
Pengumuman tersebut disampaikan Kepala Ilmuwan CATL, Wu Kai, dalam ajang Powering the Nation Forum 2026.
Berbeda dengan baterai lithium-ion yang saat ini digunakan sebagian besar mobil listrik, baterai lithium-air tidak lagi mengandalkan material logam berat dalam jumlah besar seperti nikel, kobalt, dan mangan.
Teknologi ini menggunakan anoda berbahan lithium metal dan memanfaatkan oksigen langsung dari udara sebagai bagian dari proses reaksi kimia di dalam baterai.
Karena mengambil oksigen dari lingkungan sekitar, baterai ini sering dijuluki sebagai "breathable battery" atau baterai yang dapat bernapas.
Konsep tersebut membuat bobot baterai menjadi lebih ringan sekaligus memungkinkan kapasitas penyimpanan energi jauh lebih besar dibanding baterai mobil listrik saat ini.
Baca juga: Uji Coba Fast Charging BYD Bikin Heboh, Suhu Baterai Naik Drastis
Alasan utama para produsen tertarik mengembangkan lithium-air terletak pada potensi kepadatan energinya.
Secara teori, baterai lithium-air mampu mencapai kepadatan energi hingga 12.000 Wh/kg. Sebagai perbandingan, bensin memiliki kepadatan energi sekitar 13.000 Wh/kg.
Sementara itu, baterai mobil listrik yang saat ini beredar di pasaran umumnya hanya berada di kisaran 250 hingga 270 Wh/kg.
Bahkan baterai solid-state yang digadang-gadang menjadi generasi berikutnya masih menargetkan angka sekitar 500 Wh/kg.
Menariknya, sejumlah prototipe lithium-air terbaru sudah mampu mencapai lebih dari 1.200 Wh/kg di laboratorium. Artinya, kapasitasnya sekitar empat kali lebih besar dibanding baterai mobil listrik yang banyak digunakan saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ArenaEV